Fogging Harus Penuhi 3 Syarat, Apa Saja?

125

PACITAN – Meski permintaan fogging tinggi, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan tidak bakal mengabulkan semua.  Sebab, pengasapan sebagai antisipasi serangan demam bedarah dengue (DBD) tak bisa dilakukan sembarangan. Ada kriteria yang harus dipenuhi. ‘’Boleh minta kalau syarat terpenuhi,’’ kata Kepala Dinkes Pacitan Eko Budiono kemarin (28/2)

Eko menyebut ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama, minimal ada penderita yang dinyatakan positif DBD oleh dokter maupun rumah sakit. Kedua, dalam periode tertentu terdapat penderita baru akibat gigitan nyamuk aedes aegypti. Ketiga, tingkat angka bebas jentik nyamuk dari satu lingkungan dinyatakan rendah atau kurang dari 90 persen. ‘’Disarankan angka bebas jentik itu 90 persen ke atas,’’ ujarnya.

Artinya, dalam 100 rumah lanjut minimal 95 di antaranya bebas jentik. Atau dalam 100 hari berturut-turut, 95 hari di antaranya bebas bakal nyamuk tersebut. Bila kurang, angka bebas jentik dinilai rendah dan dapat dilakukan pengasapan. ‘’Jika ketiga kriteria tadi terpenuhi harus dilakukan fogging dalam radius 200 meter karena dianggap banyak nyamuk dan terindikasi butuh fogging,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan pengetatan pengasapan lantaran menggunakan racun serangga malation. Meski tak secara langsung berdampak pada tubuh manusia, namun penggunaan secara berkepanjangan dapat merusak organ dalam. Terlebih para petugas fogging. ‘’Karena itu harus kami kontrol terus kadar racun di dalam tubuh mereka,’’ terangnya.

Untuk lembaga pendidikan, Eko menilai fogging tak diperlukan. Dia menyarankan waraga sekolah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala. Itu lebih ampuh dan sehat ketimbang fogging. Hingga kini pihaknya belum melakukan pengasapan di lingkungan sekolah. ‘’Tapi kalau sudah ada penderitanya dan terus bertambah tentu akan kami fogging,’’ pungkas Eko. (mg6/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here