Floren, Sarjana Perikanan yang Pilih Berwirausaha

71

Bergelut dengan gunting, kain flannel, dan lem tembak. Itu jadi keseharian Yo Florensia Oriscayati. Alumnus jurusan perikanan Universitas Gajah Mada saat ini berfokus menggeluti usaha kerajinan tangan. Kini bisnis handycraft tersebut sudah merambah pasar nasional. Keuntungan puluhan juta bisa diraup.

—————–

TANGAN gadis berhijab itu begitu terampil menggunting kain flannel berwarna-warni. Sesekali dia harus memegang lem tembaknya. Merangkai potongan demi potongan kain kaku menjadi sekuntum bunga nan cantik. Sekuntum itu kemudian dirangkai dengan kuntum-kuntum lainnya. Jadilah sebuket bunga.

Itulah kesibukan dari Yo Florensia Oriscayati. Dia saat ini berfokus menggeluti usaha kerajinan tangan. Tak hanya berupa buket bunga dan gantungan kunci, tapi juga produk lain. Seperti seserahan dan mahar pernikahan.  Semuanya berawal dari hobinya membaca buku. Saat SMP dia rajin ke perpustakaan. Bacaannya terkait literasi kerajinan tangan. ’’Pertama kali membuat gantungan kunci lambang grup band Ungu. Tapi respons teman-teman belum begitu bagus,’’ ujar Floren –sapaan akrab Yo Florensia Oriscayati- kepada Radar Caruban.

Namun, dia tak lantas patah arang. Floren tak ingin menanggapi respons negatif itu. Dia terus mencari referensi dan memperbaiki produk kerajinannya. Bahkan, dia mendapat dukungan dari orangtuanya. Saat itu, dirinya dibantu orangtuanya untuk mengikuti les menjahit. Tentu, dia menyambutnya dengan baik. Semakin baik produknya, dia mulai mendapatkan orderan dari teman-temannya. ’’Mulai bikin brosur dan dicetak sendiri, kemudian cari reseller,’’ katanya.

Saat SMA pun makin melebarkan pasarannya. Tadinya hanya lingkup satu sekolah saja. Kemudian produknya sudah dikenal oleh siswa-siswi yang ada di sekolah lain. Pesanan demi pesanan dikerjakan. Meski begitu dia tak merasa kewalahan. Bahkan, bisnisnya terus lancar hingga dirinya kuliah. Merasa jaringan semakin luas, Floren tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. ’’Dan mulai promosi di Instagram,’’ ungkap lulusan SMAN 1 Mejayan.

Sejak saat itulah, orderannya semakin banyak. Keuntungan mulai naik. Dia semakin dikenal. Bahkan, sempat diundang menjadi narasumber di salah satu acara perusahaan BUMN . Floren memberi materi tentang membuat usaha sampingan seperti yang dikerjakan. Niatnya menyambung hidup ketika kuliah tidak sia-sia dan justru berbuah manis. ’’Di Madiun sempat diundang jadi pembicara seminar,’’ ungkap Floren.

Setelah lulus kuliah, dia pun benar benar memboyong usahanya kembali ke Madiun. Bahkan akhirnya membuka rukonya sendiri di Jalan Ahmad Yani, Caruban. Seiring dengan banyaknya pesanan, dia pun mulai mencari karyawan. ’’Sempat ganti karyawan tiga kali, dan yang sekarang sudah bertahan 1 tahun. Ini ada dua orang,’’ katanya.

Meski sempat kesulitan melatih karyawannya dia tak menyerah begitu saja. Butuh satu bulan penuh untuk benar-benar bisa menularkan ilmu ke karyawannya. Dia harus ekstra memperhatikan karyawannya hingga bisa mandiri tanpa harus ditunggu saat membantunya menyelesaikan pesanan. ’’Syukur yang dua ini bagus dan mau bertahan dan belajar,’’ katanya.

Dia masih terus ingin membesarkan usahanya. Banyak konsumen yang kini menjadi pelanggan setia. Bahkan mereka ingin Floren membuka cabang di Kota Madiun. Selain pasarnya yang lebih seksi, perempuan 22 tahun itu tak tega jika terus membuat pelanggannya menanggung ongkos kirim yang mahal. ’’Ini masih cari cari tempat yang cocok,’’ pungkasnya. (fat/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here