Filosofi Bersepeda

80

SELAMAT bagi wakil rakyat! Selamat bekerja di ’’rumah’’ yang baru. Semoga amanah. Sempat terseok-seok sejak dibangun tahun 2015, akhirnya bangunan megah di Jalan Taman Praja itu ready tahun ini. Masih kurang mebeler. Tapi, itu tidak masalah. Mebeler di Gedung Perintis –sebutan gedung lama DPRD Kota Madiun- beberapa masih bisa dipakai. Toh, tahun ini sudah dianggarkan pengadaan sarana prasarana (sarpras) sebesar Rp 7,7 miliar.

Beroperasinya gedung baru itu ditandai dengan boyongan dari Gedung Perintis menuju Taman Praja kemarin (26/3). Ada yang menarik dari pemilihan prosesi boyongan. Tak ada kereta kencana. Tak ada pawai mobil hias. Tak ada pesta dan hura-hura. Yang dipilih olahraga bersama. Apa itu? Bersepeda. Lumayan panjang rutenya. Tiga kilometer! ’’Jangan dibahas panjang rutenya. Sebab, yang terpenting kebersamaannya,’’ begitu kata Kasatlantas Polres Madiun Kota AKP Affan Priyo Wicaksono.

Kemarin pagi, Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR), Ketua DPRD Kota Madiun Istono, dan anggota dewan memang mengajak puluhan cyclist dari berbagai komunitas bersepeda di Kota Karismatik. Ada yang dari IPSM, Banjarejo Road Bike (BRB), FCCM, MCC, Srikandi, dan Radar Madiun Cycling Club (RMCC). Semua tumplek blek di halaman Gedung Perintis.

Para cyclist kompak mengenakan jersey Karismatik Cycling Community (KCC) 2019. Warnanya kuning. Produk dari SUB Surabaya itu memang betul-betul eye-catching. Sepeda yang dipakai beragam. Mulai MTB, road bike, dan sepeda unta. Nyaris semua kepala organisasi kepala daerah (OPD), camat, dan lurah ikut nimbrung di acara itu. Saya yang sudah lama tidak gowes juga jadi partisipan. Lumayan, bisa berkeringat di pagi hari. Sekaligus bersilaturahmi. Kebetulan banyak yang kenal. ’’Kok perutnya tidak kunjung slim,’’ kelakar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Suwarno ketika menyapa saya.

Sudah lama saya tidak bertemu dengan Pak Warno. Dulu, jabatannya kepala dinas kebersihan dan pertamanan (DKP). Paling ingat ketika Pak Warno ’’diseneni’’  Pak Bambang Irianto (BI), wali kota saat itu. Gara-garanya patung pesanan dinasnya geseh karo asline (wajah BI). Hehehe

Momen kemarin juga dipakai ajang bersilaturahmi para wakil rakyat dengan puluhan pesepeda di Kota Madiun. Saya lihat banyak anggota dewan yang menyalami para cyclist. Banyak yang sudah akrab. Sebab, para cyclist itu rata-rata juga berasal dari Kota Madiun. Gayeng sekali. Ada yang berswafoto, mengobrol, dan bercanda.

Wajah-wajah segar menghiasi partisipan boyongan. Tak terkecuali Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto. Tiga unsur pimpinan dewan juga tampak bersemangat. Rina Haryati, wakil ketua dewan, tampak melakukan stretching ringan. Didik Yulianto, wakil ketua dewan lainnya, sudah bersiap di atas sadel sepedanya. Beberapa dewan ’’senior’’ seperti Marsidi Rasyid, Ngedi Trisno Yhusianto, Bondan Panji Prakoso, Winarko, Didik Mardijanto, juga bersiap di garis start. ’’Pokoknya semangat sampai finis,’’ teriak Rina Haryanti mendapat sorakan koleganya.

Begitu start, peloton yang diisi 150 pesepeda itu berjalan pelan dulu di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan dan Pahlawan. Rombongan masih di belakang road captain yang dikomandoi AKP Affan. Mantan pebola voli nasional itu mengajak polwan-polwan cantik bersepeda. Gara-gara melaju pelan, banyak yang tak sabar. Ngedi Trisno Yhusianto misalnya. Politikus PKB itu meminta saya menuju ke patwal dan road captain. ’’Suruh tambah speed, capek nanti kalau pelan-pelan,’’ kata Ngedi.

Sesaat setelah meminta kecepatan ditambah, ada kejutan dari peloton depan. Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR) mendadak menambah kecepatannya sampai 25 kilometer per jam di kawasan Jalan PB Sudirman. SR langsung mengimbangi para Srikandi yang ikut di belakangnya. AKP Affan yang terus mengawal dibuat kaget. Langsung AKP Affan mengejar dan kembali mengawal SR. Adrenalin SR memang naik. Mantan rektor Unmer itu memang gemar bersepeda. Sehingga paham pengaturan speed.

Di saat SR menambah kecepatan, partisipan lainnya langsung mengikuti. Saat itu saya sempat berbincang dengan Marsidi Rosyid. Politikus PKB itu memberi tahu saya jika sepedanya itu berusia sangat tua. Marsidi berujar, sepeda besinya itu sudah 20 tahun. Sejak dulu, Marsidi memang penyuka olahraga bersepeda. ’’Ya maintenance biasa, tapi awet sampai sekarang,’’ ujarnya dewan tiga kali periode.

Di kawasan Jalan Mastrip, saya memilih mengurangi kecepatan. Ingin melihat satu per satu rombongan. Saya melihat Ketua DPRD Kota Madiun Istono melaju di kecepatan 15 kilometer per jam. Untuk ukuran pesepeda itu tidak terlalu kencang. Di sebelahnya ada Misdi, sekretaris DPRD Kota Madiun, yang setia mendampingi. Ada pula Kepala Disnaker Kota Madiun Suyoto yang memakai sepeda kumbang atau tunda. Bagi Suyoto, rute boyongan kemarin tentu tidaklah berat. Saya tahu, sejak tiga tahun terakhir mantan kepala dinas pendidikan itu suka bersepeda. Pilihannya pakai MTB. Dia suka pula mengikuti event bersepeda di berbagai kota. Naik turun gunung. ’’Ayo, tambah kecepatannya Pak Ketua,’’ seloroh Suyoto memberi semangat rombongan ketua dewan.

Itulah asyiknya bersepeda. Bisa saling memberi motivasi. Filosofi bersepeda itu luas penjabarannya. Bagi para cyclist  tentu sangat paham. Apalagi yang penyuka tanjakan. Koestiya Hadi, cyclist BRB, mungkin bisa berbagi pengalaman. Sejak 2011, pemilik warung Sop Kaki Sapi di kawasan Jalan H Agus Salim itu aktif bersepeda. Ada banyak manfaat yang dirasakan. ’’Saya bersepeda karena merasakan dampak positifnya. Dulu saya sakit,’’ ujarnya.

Dengan aktif bersepeda, akhirnya penderitaan dari sakit yang dirasakan bisa berkurang. Bahkan, bisa sampai 95 persen hilang. Sejak itu, Hadi berjanji untuk terus bersepeda. Bersama komunitasnya, Hadi sering melahap rute-rute tanjakan di kawasan Madiun Raya. Baginya, ada kepuasan yang dirasakan para cyclist bisa menggapai finis di tanjakan yang dipilih. ’’Rasa puasnya luar biasa, apalagi untuk mencapainya butuh perjuangan,’’ jelasnya.

Pertama, niat. Selanjutnya, butuh sabar. Tidak boleh terpancing emosi. Terus mengayuh dengan hati. Saat berada di tanjakan ada kecenderungan para cyclist selalu menunduk. Ini pesan pula agar kita semua tidak jemawa. Betapa besarnya kuasa Allah SWT. Sehingga sebagai makhluk, kita tidak ada apa-apanya. ’’Di sepeda kita juga ada roda, yang terus berputar, itulah cermin kehidupan. Ada kalanya berada di atas, dan ada kalanya berada di bawah,’’ kata Hadi.

Bersepeda bersama ke gedung baru DPRD Kota Madiun sarat makna. Selain menjadi ajang silaturahmi, juga menjadi pengingat bersama. Khususnya kepada semua anggota dewan. Maupun nantinya anggota dewan periode selanjutnya yang bekerja di ’’rumah’’ wakil rakyat tersebut.

Saya juga sepakat dengan yang dikatakan cyclist senior BRB itu. Ada baiknya, para dewan nantinya bisa memaknai dari filosofi bersepeda. Bersepeda mengajarkan kebaikan. Bersepeda mengajarkan kejujuran. Bersepeda mengajarkan orang bersikap pantang menyerah. Dengan memaknai semua, para wakil rakyat bisa bertugas dan menjalankan amanah dengan baik. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here