Festival Balon Udara, Tetap Mengudara Tanpa Bahaya

12
TRADISI IDUL FITRI: Ribuan warga menghadiri Festival balon udara di Lapangan Nongkodono, Kauman, Rabu (12/6).

PONOROGO – Sebanyak 49 balon udara berbagai bentuk dan warna meramaikan festival di Lapangan Nongkodono, Kauman Rabu (12/6). Jumlahnya tak sebanyak tahun lalu yang menyedot sedikitnya 60 peserta.

Suara petasan terdengar saat festival dimulai di Lapangan Nongkodono. Ledakan itu berasal dari balon udara liar tanpa awak yang diterbangkan di sekitar lokasi festival. Pantauan Radar Ponorogo, ada belasan balon udara liar mengudara di sekitaran lokasi. Sama persis dengan festival balon udara tahun lalu di Lapangan Jepun, Balong.

Kendati demikian, tidak menggangu jalannya festival. Meskipun animo peserta berkurang dari tahun sebelumnya. Tahun ini dari 60 pendaftar, 49 balon hadir memenuhi lapangan. Sementara tahun lalu, dari 80 pendaftar, diramaikan 60 balon udara. Turunnya animo peserta tak menyurutkan kedatangan ribuan warga yang ingin menyaksikan keindahan warna-warni balon udara menghiasi langit Ponorogo.

Hariyono, 45, warga Gelanglor, Sukorejo mengaku senang dengan adanya festival. Dulu, dia bersama pemuda di desanya selalu menerbangkan balon udara saat Lebaran. Sejak adanya aturan dan festival, dia memilih menerbangkan balon udara di festival. Alasannya, faktor keamanan. ‘’Dulu pernah nerbangkan balon hingga 35 meter dengan petasan dan menimpa rumah warga. Kami pun harus ganti rugi,’’ kenang pria 45 tahun itu.

Baginya, festival cukup mewadahi tetap berlangsungnya tradisi tanpa risiko berarti. Walaupun diakuinya ada sensasi berbeda saat mengikuti festival. Balon udara yang diikutkan festival harus sesuai aturan. Ukurannya tidak boleh melebihi tujuh meter dan tidak menggunakan sumbu api. Juga, harus ditambatkan dengan ketinggian 150 meter. ‘’Angin menjadi kendala,’’ lanjutnya.

Untuk menerbangkan balon udara dalam festival tersebut dia bersama pemuda lainnya harus bekerja esktra. Pasalnya, balon udara tanpa sumbu api hanya sanggup terbang tak sampai setengah jam. Sehingga harus mengejar dan membawa kembali untuk diisi asap hasil pembakaran daun kelapa kering. ‘’Aturannya seperti itu, kami ngikut saja,’’ ungkapnya.

AKBP Radiant, Kapolres Ponorogo mengaku tidak dapat berbuat banyak lantaran faktor cuaca. Pihaknya telah berupaya mengerahkan seluruh personil di wilayah hukum polsek masing-masing untuk patroli. Mengantisipasi adanya balon udara liar tanpa awak yang diterbangkan saat festival dimulai. ‘’Tahun ini warga semakin sadar akan bahaya balon udara,’’ kata Radiant.

Dia menjelaskan festival tersebut merupakan bagian kampanye sekaligus wadah untuk mengakomodir tradisi. Harapannya, warga tetap dapat melestarikan tradisi tanpa risiko. Hasil razia tahun ini mencapai 59 balon udara tanpa awak. Menurun dari hasil razia tahun lalu yang mencapai 150 balon udara. ‘’Nah, disinilah kesadaran yang terus ditingkatkan. Kami tidak melarang tradisi tapi mengurangi risiko bahaya balon udara liar,’’ lanjutnya.

Asri Santoso, Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub mewacanakan bakal memasukkan edukasi bahaya balon udara lewat kurikulum sekolah. Mulai SD hingga SMA. Dia juga berharap festival balon udara dapat mewadahi tradisi dan mendongkrak wisata daerah. ‘’Terpenting jangan sampai membahayakan,’’ tukasnya. (mg7/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here