Februari Mario Aji Training di Spanyol

235

MAGETAN – Siapa yang menyangka pembalap muda Magetan Mario Suryo Aji mahir memasak? Padahal, rider 15 tahun itu terlihat sangar saat berada di lintasan balap. Namun, dia rupanya lihai saat berada di dapur.

Apa masakan yang sering dimasak Mario? Ternyata Mario suka makan ikan tuna. Saat ada waktu senggang, Mario juga berbelanja sendiri makanan yang akan dimasak. ’’Kalau di rumah sering masak sendiri. Dia jarang makan nasi,’’ kata Hartoto, ayahanda Mario.

Kebiasaan itulah yang membuat Hartoto semakin rindu pada putra ketiganya itu. Karena selera makannya berbeda dengan anggota keluarga yang lain, Mario tidak pernah menuntut untuk disediakan. Dia memilih menyiapkan sendiri makanan yang akan disantap. Maklum, Mario memang harus menjaga berat badannya agar stabil. Tidak boleh terlalu gemuk ataupun kurus. Itu bisa memengaruhi performanya saat balapan. Apalagi, memang ada tuntutan berat badan sesuai kelas motor yang dinaiki. ’’Anaknya mandiri,’’ sebutnya.

Pantas saja kerinduan Hartoto terhadap Mario semakin menggunung. Bulan lalu, Mario menjalani latihan fisik di Jogjakarta. Kini rider 15 tahun itu sudah bertolak ke Bogor. Mario tengah menjalani latihan untuk mengasah kemampuannya memutar tuas gas dan menaklukkan tikungan demi tikungan. Berkurangnya intensitas bertemu dengan Mario sangat dirasakan Hartoto. ’’Latihannya lebih berat. Karena sudah naik kelas,’’ ungkapnya.

Setelah itu, Hartoto bakal semakin sulit menemui putranya. Mulai pertengahan Februari, Mario sudah berada di Spanyol. Selama tiga hari mulai 13-15 Februari, Mario akan menjalani masa training di negeri Matador tersebut. Mario juga harus menjalani tes mulai 25-26 Maret nanti. Namun, bukan di Spanyol. Melainkan di Portugal.

Mario bakal berlaga di ajang CEV kelas Moto3 Junior Eropa. Pada musim yang sama, Mario juga akan disibukkan ajang Red Bull MotoGP Eookies Cup. Tesnya bakal dilakukan pada 2-5 April. Sedangkan race perdananya pada 4-5 Mei di Spanyol pula. ‘’Ini memang sudah menjadi cita-citanya. Ada peningkatan dari tahun lalu,’’ katanya.

Meski karirnya sebagai pembalap tampak cemerlang, namun Hartoto tak ingin putranya itu melupakan pendidikannya. Mario menjalani home schooling. Sehingga, waktu belajarnya bisa disesuaikan dengan kesibukannya. Namun, dia tetap tercatat sebagai siswa SMPN 3 Magetan. Beruntung, pihak sekolah sangat mendukung karir Mario tersebut. ’’Pendidikan tetap nomor satu. Balapan boleh, sekolah jangan dilupakan,’’ pesan Hartoto.

Hartoto berharap tahun ini menjadi pembuktian dan kebangkitan Mario. Sebab, pada tahun lalu torehannya masih kurang memuaskan. Itu tak terlepas dari terjatuhnya Mario pada Asia Road Racing Championship (ARRC) 2018 di Sentul, Bogor. Terlemparnya Mario keluar lintasan balap itu, membuat tangan kanannya retak. Itu berdampak pada race setelahnya yang menjadi tidak maksimal. Dia juga tidak sabar menanti kepulangan Mario dan melihatnya memasak di dapur. ’’Pasti kangen, namanya juga anak. Tapi, ini demi masa depannya,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here