Fauzan Fadli Shani, Penyandang Disabilitas yang Seorang Programmer

189

Keterbatasan fisik tidak membuat semangat belajar Fauzan Fadli Shani luntur. Sejak sekolah di madrasah aliyah, pemuda itu getol mempelajari bahasa pemrograman. Pun, setelah kuliah di perguruan tinggi, prestasi akademiknya terbilang moncer.

——————

JARI jemari Fauzan Fadli Shani dengan lincah memencet tombol keyboard laptopnya. Dalam sekejap di layar muncul blok hitam bertuliskan simbol-simbol bahasa pemrograman. ‘’Sedang latihan  bahasa pemrograman,’’ kata Fauzan.

Sebelum akrab dengan bahasa pemrograman, Fauzan terlebih dahulu menekuni dunia robotika. Saat masih sekolah di MAN 1 Kota Madiun, beberapa kali dia mewakili madrasahnya mengikuti kompetisi robotika tingkat provinsi dan nasional. Sayang, tidak satu pun berbuah trofi juara. ‘’Serius belajar bahasa pemrograman waktu kelas XII,’’ katanya.

Lulus madrasah aliyah, Fauzan berniat mengambil program studi TIK salah satu perguruan tinggi swasta. Namun, saat mendaftar, pihak kampus menolak. ‘’Setelah lihat kondisi fisik saya yang nggak bisa jalan kaki. Ke mana-mana harus pakai kursi roda,’’ kenang sulung dua bersaudara itu.

Fauzan akhirnya mendaftar ke kampus swasta lainnya. Singkat cerita, setelah melewati serangkaian seleksi administrasi dan tes tulis, dia dinyatakan diterima. ‘’Akhirnya saya bisa kuliah. Saya ambil S-1,’’ ujar pemuda yang sejak kecil mengidap muscular dystrophy hingga mengalami kelumpuhan itu.

Fauzan terbilang mahasiswa berotak encer. Itu dibuktikan dengan nilai indeks prestasi kumulatif yang selalu di atas 3,6. Pun, untuk materi bahasa pemrograman dia lebih jago dibanding teman-temannya karena telah mengenalnya sejak sekolah di MAN. ‘’Kalau ada tugas kuliah,  sebelum deadline pengumpulan, saya sudah selesai,’’ bebernya.

Meski begitu, Fauzan merasa belum puas. Dia sengaja mempelajari lebih dalam bahasa pemrograman secara otodidak lewat tutorial di YouTube. Juga sharing dengan sesama programmer lewat grup Telegram. ’’Gabung sejak semester I. Anggotanya puluhan,’’ sebutnya.

Di grup itu pula Fauzan kerap menemukan solusi ketika mendapati masalah saat mengutak-atik aplikasi dan program. Bahkan, tidak sedikit yang memberikan modul dalam format PDF yang bisa diunduh secara cuma-cuma. ‘’Kalau mau beli bukunya juga mahal,’’ ungkapnya.

Berkat kepiawaiannya dalam bahasa pemrograman, Fauzan beberapa kali mendapat job dari dosen dan kalangan umum.  Mulai membuat video animasi, website, hingga media pembelajaran. Tak hanya itu, saat musim ujian, dia kerap jadi jujukan rekan kampusnya sebagai partner diskusi. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here