Fasilitasi Petani Magetan Kopi Go National

57

MAGETAN – Produksi kopi di Magetan terbilang melimpah. Namun, pengelolaannya belum maksimal. Terutama pascapanen. Buktinya masih banyak petani yang menjual kopi mereka tanpa diolah. ‘’Sekarang sudah ada petani yang mengeringkan dulu kopinya lalu dikupas, baru dijual,’’ kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan Eddy Suseno kemarin (13/2).

Menurut dia, petani penjual kopi dalam bentuk olahan perlu dibina. Karena saat ini industri kopi kelas nasional lebih mendominasi pasar. Akibatnya, petani kopi lokal sulit menembus pasar. ‘’Harus pelan-pelan, karena musuhnya sudah beda. Bukan antara petani lagi,’’ paparnya.

Dia mengungkapkan pembinaan bakal dilakukan ke sebagian gabungan kelompok tani (gapoktan). Terutama mereka yang punya produk kopi siap seduh. Salah satunya adalah kopi Luku Rejomulyo. ‘’Core-nya baru satu. Kami mendorong produksi barang baku,’’ ujarnya.

Bantuan tiap tahun sudah diberikan kepada gapoktan kopi untuk mengembangkan produksi. Eddy mencontohkan, pada tahun ini para petani kopi di Desa Janggan, Poncol, yang mendapat bantuan alat pengolahan pascapanen. ‘’Paling tidak, setelah dipanen jangan langsung dijual,’’ pesannya.

Eddy menyatakan keberadaan pegiat kopi juga berperan meningkatkan nilai jual kopi. Mereka tak jarang mengajari para petani kopi untuk menyangrai. Dengan begitu, para petani tidak terjebak oleh tengkulak yang menghargai murah kopi mereka. ‘’Dijual dalam bentuk kopi kupas kering saja sudah beda harganya, apalagi kalau disangrai dulu,’’ jelasnya.

Saat ini pihaknya juga fokus mengembangkan tanaman kopi. Terutama jenis excelsa (kopi nangka). Kopi yang tingkat produksinya sedikit itu kini harganya melambung tinggi. ‘’Saat ini, petani yang memiliki kopi jenis excelsa lebih senang untuk mengonsumsi sendiri. Tidak dijual,’’ ungkap Eddy. (bel/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here