Fasilitas Tak Memadai, Pengembangan Monumen Jenderal Sudirman Belum Jelas

47
SARAT SEJARAH: Monumen Jenderal Sudirman di Desa Pakis Baru, Nawangan, Pacitan, dikelola dinas pendidikan tahun ini.

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Pemkab Pacitan mengklaim Monumen Jenderal Sudirman sebagai wisata edukasi. Namun, keberadaan patung pahlawan di Dusun Menur, Pakis Baru, Nawangan, itu jarang didatangi pengunjung. Fasilitas penunjang pun tak memadai. ‘’Ramai hanya hari libur atau momen seperti tahun baru dan Lebaran,’’ kata Katno, salah seorang karyawan Monumen Jenderal Sudirman, Rabu (21/8).

Monumen Jenderal Sudirman tidak punya struktur kepengurusan resmi. Enam karyawan mempunyai posisi yang sama meski berbeda tugas. Pengunjung yang datang tidak ditarik retribusi. Sekadar sumbangan seikhlasnya untuk dana kebersihan. Nilainya di rentang Rp 1.000 hingga Rp 5.000. Sekitar 7.500 pengunjung mendatangi monumen terhitung Januari–Agustus 2019. Rekap itu tercatat dalam buku data pengunjung. ‘’Rombongan luar daerah itu keluarga dan instansi. Kalau lokal didominasi anak-anak muda,’’ terang Katno.

Kondisi tersebut membuat dirinya bingung dengan status monumen sarat sejarah ini. Tepatnya setelah dinas pendidikan (dindik) mengambil alih pengelolaan dari dinas pariwisata pemuda dan olahraga (disparpora) tahun ini. ‘’Meski honor karyawan dari dindik, tapi data pengunjung dilaporkan ke disparpora,’’ ujarnya.

Sidiq, karyawan lain, menyebut tidak terarahnya pengelolaan berdampak pada para pengunjung. Monumen ini tidak punya fasilitas penunjang yang memadai. Seperti tempat parkir dan tempat sampah. Persoalan itu sering dikeluhkan pengunjung. ‘’Kalau banyak pengunjung, parkir kendaraan tidak teratur. Banyak sampah berserakan karena jumlah tempat sampah sedikit,’’ katanya.

Kepala Dindik Pacitan Daryono menyebut, Monumen Jenderal Sudirman menjadi wisata edukasi bagi pelajar, tenaga pendidik, hingga masyarakat. Namun, pihaknya tidak mewajibkan seluruh satuan pendidikan di bawah naungan lembaganya datang mengunjungi. ‘’Sebatas dorongan agar monumen dijadikan tempat belajar sejarah,’’ ujarnya.

Disinggung arah pengembangan, Daryono enggan berkomentar banyak. Salah satunya tidak bisa memastikan ada tidaknya penerapan retribusi masuk. ‘’Perlu melakukan studi,’’ katanya. (den/c1/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here