Fasilitas Khusus untuk Caleg Tidak Siap Kalah

71

Pesta demokrasi bukan sekadar jadi ajang keriuhan debat antarpendukung calon presiden, atau janji yang kadang muluk dari para calon legislatif. Di balik itu semua, berbagai kisah jadi bumbu hajatan politik lima tahunan ini. Tak semua kisah menggembirakan memang.

——————————–

FASILITAS tak biasa disediakan di kamar rawat inap RSUD dr Soeroto Ngawi. Di kamar tersebut, terdapat rantai yang dipasang persis di sebelah tempat tidur pasien. Rantai itulah fasilitas ‘’istimewa’’ bagi penghuninya. Yakni, calon legislatif (caleg) yang mungkin terganggu jiwanya pascapemilu serentak 17 April mendatang. ‘’Pengalaman pemilu sebelumnya, ada caleg gagal yang mengalami gangguan jiwa dan harus dirawat di sini,’’ kata Kepala Ruang Teratai RSUD dr Soeroto Ngawi Budi Supriyanto.

Kamar spesial itu berada di areal Ruang Teratai. Ruangan tersebut memang ditujukan bagi pasien gangguan kejiwaan. Kapasitasnya untuk 22 pasien. Fasilitasnya sama. Begitu pula ukuran kamar; sekitar 12 meter persegi. Terdapat rantai besi di sebelah setiap tempat tidur. Fungsinya, untuk mengamankan pasien gangguan jiwa jika membahayakan orang lain. ‘’Dokter spesialis kejiwaan juga tersedia untuk merawat (caleg, Red.),’’ ujarnya.

Situasi memaksa rumah sakit pelat merah ini mengalokasikan khusus salah satu kamar di Ruang Teratai. 2014 lalu, RSUD milik Pemkab Ngawi ini menerima seorang pasien yang pengidap gangguan jiwa asal Kabupaten Madiun. Seorang caleg yang gagal dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2014. Menginap sepekan.

Belajar dari pengalaman itu, pihak rumah sakit lantas menyediakan satu kamar khusus bagi caleg. Soal sebutan kamar khusus caleg, kata Budi, sebenarnya tidak ada maksud lain. ‘’Kami hanya mengantisipasi, kalau terjadi seperti 2014 kami siap,’’ ungkapnya.

Adakah kemungkinan caleg gagal kemudian depresi pada Pemilu 2019 ini? Psikolog Robik Anwar Dani menyebut kemungkinan itu cukup besar. Terutama, caleg yang tidak siap kalah dalam kontestasi politik. ‘’Jadi ketika seseorang tidak dapat mewujudkan ekspektasinya menjadi realita, itu bisa berujung pada kondisi gangguan jiwa,’’ kata Robik.

Robik menjelaskan, ada beberapa tahapan dari sebelum sampai pada gangguan jiwa. Biasanya seseorang yang mengalami kegagalan bakal frustasi dan berlanjut stres. Jika belum tertangani dengan baik, bisa menjadi depresi. Semakin berat depresi, bisa berujung pada gangguan jiwa.

‘’Jadi sebenarnya bisa dicegah sebelum sampai pada kondisi gangguan jiwa,’’ urainya. ‘’Lingkungan harus mendukung dalam proses coping stres (mencari jalan keluar dari stres). Kuncinya menerima situasi dan kondisi yang ada,’’ pungkasnya. (tif/naz/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here