Etika di Dunia Nyata=Dunia Maya

151

KETIKA saya masih bekerja dan aktif mewarnai pembuatan kebijakan di tingkat pemerintah pusat bidang komunikasi dan informatika, sudah ikut membayangkan bagaimana menghadap era digital. Namun bayangan saya waktu itu, juga saya yakin teman-teman saya pejabat tinggi lainnya di kementerian dampaknya tidak sedahsyat sekarang.

Tahun 2007 saya ada tugas dinas di Korea Selatan (Korsel) untuk hadir acara ICT. Bayangkan di Indonesia untuk selular waktu itu teknologi masih 2G. Walaupun masih kena roaming, baik yang telepon maupun yang menerima, kalau ke luar negeri cukup menyalakan atau mengubah layanan luar negeri sudah beres. Di negara Asean juga sudah bisa. Lha di negara Korsel tidak bisa.

Kalau kita ingin bicara internasional atau bicara ke tanah air, harus harus nyewa semacam telepon khusus waktu kita tiba di bandara Incheon- Seoul Korsel. Tentu saja saya dan rombongan kebingungan. Akhirnya disepakati nyewa satu perangkat telepon saja, tapi untuk ramai-ramai dan biaya ditanggung bersama.

Usut punya usut, ternyata Korsel sedang menyiapkan menata sistem telekomunikasinya waktu itu. Salah satunya, satu orang satu nomer untuk selamanya. Demikian juga ketika dalam pertemuan dengan pejabat kementerian yang membidangi ICT bagaimana kemudian menjelaskan bagaimana Korsel ke depan menghadapi era digital.

Tentu di Korsel, visi dan misi pemerintah sama dan seiring dengan para wirausahanya utamanya di bidang teknologi. Sehingga betul-betul antara visi pemerintah, pelaku usaha, dan kemudian penyiapan masyarakat berjalan seiring.

Kita di Indonesia tidak dalam kondisi ideal. Kalau menurut Alvin Tofller dalam bukunya Future Shock (1970) yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia 1980-an, telah membagi peradaban menjadi tiga gelombang. Yakni,  pertanian, industri, dan informasi. Kalau di negara barat, setiap peradaban bergerak tahap demi tahap. Sehingga  hampir tidak ada golongan masyarakat yang tertinggal. Baik itu dunia usaha, masyarakat maupun pemerintahnya. Dalam arti yang sebenarnya. Berbeda dengan Indonesia. Tiga peradaban itu ada secara bersamaan di masyarakat kita. Malahan saat ini bisa jadi masih banyak petani kita dalam bertani pakai cangkul atau tenaga manusia atau hewan.

Itulah yang kemudian menjadi pemikiran kita di Kementerian Komunikasi dan Informatika waktu itu. Sedang teknologi dan kemajuan apalagi perubahan tidak bisa kita hindari. Selain sosialisasi ke masyarakat, agar menggunakan teknologi untuk added value (nilai tambah) juga waktu itu mempersiapkan suatu aturan hukum. Di antaranya menyusun bagimana menyusun UU ITE yang ideal. Kita berpikir betul, bagaimana UU ini nantinya bisa sebagai law as a tool of social engineering. Dengan demikian hukum digunakan sebagai rekayasa sosial untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi era teknologi benar-benar dilakukan secara matang.

Ada beberapa filosofi yang perlu saya sampaikan waktu kita membahas dan menyusun UU ITE tersebut, yang kemudian disahkan menjadi UU No 11 tahun 2008. Bahwa dalam menyusun UU tersebut berlakunya pemahaman bahwa etika di dunia nyata (real world) = dunia maya (virtual world). Oleh sebab itu UU ini harus bisa membawa masyarakat bagaimana seharusnya. Ketika orang berinteraksi di dunia maya tetap menjaga etika sebagaimana ketika interaksi di dunia nyata.

Kalau di dunia realitas menuduh, menjelekkan, berbohong dan sebagainya adalah tidak etis atau malahan melahan melawan hukum, tentu juga akan berlaku di dunia maya. Nilai-nilai itupun secara universal sama dimanapun. Berbicara kepada yang lebih tua, guru, ibu dan bapak bersifat sopan. Demikian juga bertamu di malam hari tidak sopan, karena orang waktunya istirahat. Oleh sebab itu nilai-nilai tersebut dipakai dalam penyusunan UU tersebut.

Jelas dalam alinea pertama penjelesan UU ITE menyatakan, “Pemanfaatan teknologi informasi, media, dan komunikasi telah mengubah baik perilaku masyarakat maupun peradaban manusia secara global. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Teknologi Informasi saat ini menjadi pedang bermata dua karena selain memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan,kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif perbuatan melawan hukum.”

Kita berharap bahwa manfaat teknologi ini harus jauh lebih besar dibandingkan keburukannya. Namun sayangnya teknologi ketika sudah ditangan, kebaikan seolah hampir sama dengan keburukannya. Apalagi akhir-akhir ini. Apalagi diwaktu mendekati pilpres. Yang namanya dukung-mendukung demikian kasarnya dalam berkomunikasi.

Kalau dulu sebelum pilpres, saya membaca di media sosial, caci maki biasanya terjadi antar pendukung klub sepak bola. Itupun sepak bola seperti misal ada penggemar Indonesia fanatik di liga Inggris Manchester United dengan Liverpool, atau Manchester City dan lainnya. Kalau di Liga Spanyol, antara pendukung Indonesia yang ngefans Barcelona dengan Real Madrid.

Kalau ada pertandingan El Clacico pasti komentar dari berita di media online isinya saling menyerang antar-pendukung, dengan bahasa yang saya seringkali nggak habis mengerti. Mengapa bahasa seperti ini yang harus keluar. Sangat kasar dan tidak pantas. Mungkin bisa agak dimengerti, mungkin karena pendukung masing-masing anak-anak masih muda.

Yang menjadi kekhawatiran saya selanjutnya ketika pilpres para pendukung masing-masing calon yang kontak di media sosial tidak hanya anak muda. Tentunya juga orang tua. Tapi yang juga mengherankan saya. Bagaimana mungkin, orang tua sudah demikian kehilangan akal sehat dalam mendukung pilihan masing-masing.

Isinya sumpah serapah yang sungguh tidak pantas. Bukankah etika dan hukum di dunia maya mestinya sama di dunia nyata (malahan di dunia maya lebih berat). Kalau tidak pantas diucapkan di dunia nyata mestinya juga tidak pantas di dunia maya. Mengapa orang tua juga sudah ikut terjangkiti.

Jangan-jangan di wilayah eks Karesidenan Madiun ini juga begitu. Sedangkan di Madiun ini adalah budaya Mataraman atau sebagai masyarakat yang ngugemi adat dan budaya Jawa. Dalam budaya Jawa selalu diajarkan, “Ajining dhiri gumantung ana lati.” Dan kemudian, “tuna sathak bathi sanak.” Juga rasa “andhap asor” itu dimana? Mungkin saat kita sudah menganggap “dunia nyata≠dunia maya.”  Karena kita sudah lebih banyak waktu kita habiskan setiap harinya di dunia maya, sehingga sekarang harus dibalik, ’’kehidupan dan peradaban dunia nyata harus mengikuti dunia maya.” Wallahu a’lam bishawab. (*/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here