Estyana Dwi Cahyani, Tunanetra yang Menyalurkan Hak Pilih

17

MAGETAN – Meski penyandang tunanetra, Estyana Dwi Cahyani tidak golput dalam Pemilu 2019. Dia mengunakan hak politiknya untuk memperjuangkan nasib kaumnya. Pemimpin dan wakil rakyat terpilih kelak bisa peduli kepada difabel.

Telapak tangan kiri Estyana Dwi Cahyani tidak pernah lepas dari punggung Mujirah. Bagian belakang tubuh ibunya itu sebagai kompas perjalanan menuju tempat pemungutan suara (TPS) 09 di Kelurahan Sukowinangun, Magetan, yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah. Azriel, anaknya juga diajak menemani menyalurkan hak pilih Pemilu 2019 kemarin (17/4). ‘’Sayang kalau tidak mencoblos,’’ kata Esty –sapaan akrab Estyana Dwi Cahyani.

Esty merupakan penyandang tunanetra. Keterbatasan tersebut membuatnya berada cukup lama di bilik suara. Bila orang normal mencoblos lima jenis surat suara tidak lebih dari lima menit, perempuan 30 tahun ini butuh waktu hingga 10 menit. Dia sempat kebingunan lantaran alat bantu template huruf braile hanya tersedia untuk non-pemilihan legislatif (pileg). Yakni, pemilihan presiden (pilpres) dan dewan perwakilan daerah (DPD). Sedangkan pencoblosan tiga surat pileg DPR RI, DPRD Jawa Timur, dan DPRD Kabupaten harus diarahkan pendamping kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang sebelumnya membantu membuka dan melipat surat suara. ‘’Saya sedikit kecewa karena pendamping ikut mengarahkan memilih calon,’’ ujarnya.  

Saat sosialisasi pemungutan suara, pendamping pencoblosan diperbolehkan dari anggota keluarga. Namun, kenyataannya, pengawas TPS tidak mengizinkan penunjukan ibunya menjadi pendamping. Tugas itu harus dilakukan petugas KPPS. Padahal, tujuan perempuan yang sudah tidak bisa melihat sejak lahir itu lebih mempercayakan ke ibunya karena jumlah calon legislator cukup banyak. ‘’Alhamdulliah berjalan lancar dengan memilih calon yang sesuai pilihan hati nurani saya,’’ ucap warga RT 03, RW 02, Kelurahan Sukowinangun tersebut.

Pemilu 2019 adalah pesta demokrasi ketiga yang diikuti Esty. Sebelumnya, pemilu 2009  dan 2014. Karena tidak pernah absen, dia bersemangat untuk menggunakan lagi hak politiknya. Dia berharap pemimpin yang terpilih kelak bisa lebih memperhatikan kaum difabel. Terutama bagi anggota parlemen terpilih yang notabene suara hati rakyat. Sayangnya, tidak ada caleg Magetan yang dikenalnya. Sebab, seingatnya nihil calon penghuni Pahlawan 1 –sebutan gedung DPRD Magetan– yang berbaur bersama penyandang tunanetra saat kampanye. ‘’Saya lebih kenal caleg provinsi. Mereka berbaur mendatangi perkumpulan tunanetra di panti pijat Sumber Sehat,’’ ungkapnya.

Ya, Esty sehari-harinya sebagai tukang pijat. Mengurut di panti Sumber Sehat mulai pagi hingga siang, sorenya menerima pasien di rumah. Pekerjaan itu sudah ditekuni selama sembilan tahun. Keahlian tersebut diperoleh setelah mengikuti kursus dinas sosial selepas lulus sekolah luar biasa (SLB) Panca Bhakti. ‘’Tiada pilihan lain kecuali belajar memijat karena tidak ada biaya melanjutkan pendidikan,’’ tandasnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here