Esksitensi Usaha Mikro Kecil Terancam

80

PONOROGO – Bisnis ritel di Bumi Reyog tengah lesu darah. Daya beli masyarakat yang relatif rendah disikapi peritel dengan banting harga. Bahkan, produk busana didiskon hingga 75 persen. Cara itu diharapkan mampu menjaring banyak pembeli. ‘’Banyak tenant mematok diskon sampai di atas 30 persen,’’ kata Marketing Communication Ponorogo City Center (PCC) Junta Bayu kemarin (5/4).

Saat ini ada 60 tenant di PCC. Delapan di antaranya peritel busana. Salah satunya Matahari Dept Store. Ada juga Buti, Three Second dan Nobby Hijab & Fashion. Mereka jor-joran menawarkan diskon kepada konsumen. ‘’Hampir semua tenant menawarkan diskon,’’ ujarnya.

Masing-masing tenant punya program untuk menggenjot penjualan. Bahkan, ada beberapa yang sengaja banting harga memanfaatkan momen jelang Ramadan. Ada pula yang menawarkan diskon untuk menghabiskan produk lama alias cuci gudang. ‘’Itu dilakukan karena diganti produk new arrival (baru),’’ ungkapnya.

Cara itu lumayan jitu mengerek angka penjualan. Menurut Bayu, masyarakat Bumi Reyog cenderung tertarik iming-iming diskon dan promo lainnya. Bahkan, sudah jadi bagian budaya masyarakat setempat. ‘’Ketika ada diskon, atau promo buy one get one free (beli satu gratis satu), pasti laku. Masyarakat lebih tertarik membeli produk-produk seperti itu,’’ sebutnya.

Menurut Bayu, kontinyuitas promosi cukup penting dalam menghadapi persaingan. ‘’Namun sejauh ini, yang paling kontinyu Matahari. Yang lain beberapa hari atau minggu saja,’’ terangnya.

Peritel busana di PCC juga juga harus bersaing dengan peritel di Ponorogo Permai (Poper) atau Keraton. Kedua pusat perbelanjaan di Jalan Jenderal Sudirman itu dikenal menjual busana dengan harga miring. Di Poper produk busana didiskon separo harga.

Pengamat ekonomi lokal Imam Fauzan memandang persaingan bisnis ritel di Bumi Reyog terbilang ketat. Faktor daya beli turut mempengaruhi. Ada untung rugi di balik itu. Kendati demikian, strategi perang diskon patut diterapkan. Sebab, kecenderungan masyarakat, lebih tertarik barang-barang yang berlabel diskon. ‘’Secara psikologis masyarakat lebih menyukai barang-barang yang didiskon. Di mana pun itu,’’ tuturnya.

Di sisi lain, Imam memandang itu bisa jadi pembunuh pedagang kecil. Otomatis, pedagang kecil perlahan tersingkir lantaran mulai ditinggalkan konsumennya. Sebab, masyarakat memilih ritel besar yang banting harga. Jika itu terus terjadi, maka bisa membahayakan perekonomian mikro dan kecil di Bumi Reyog. ‘’Ini dampak buruk dari strategi perang diskon,’’ bebernya. (mg7/naz/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here