Erta Puri Rosidiani dkk Tularkan Virus Bersedekah Nasi Bungkus

138

Banyak cara untuk berbagi dengan sesama. Erta Puri Rosidiani dan puluhan dermawan lainnya memilih bersedekah nasi bungkus untuk kaum duafa. Ada kebahagiaan tersendiri saat mereka mendapati nasi yang ditaruh di etalase tak tersisa.

————————-

SAMPAI depan Masjid Al-Hidayah, Jalan Kemiri, Kota Madiun, seorang tukang becak tampak menghentikan kayuhannya. Setelah turun dari becaknya, pria itu menghampiri etalase kaca di halaman masjid dan mengambil dua bungkus nasi yang ada di situ.

Tidak lama berselang, seorang pelajar SD yang terlihat baru pulang sekolah mengambil satu nasi bungkus dan ditenteng sambil berlalu pergi meninggalkan halaman masjid.

Menjelang sore, Erta Puri Rosidiani dan Estya Soebandono datang membawa kantong kresek besar berisi belasan bungkus nasi. Keduanya lantas menatanya di etalase hingga kembali terisi penuh. ‘’Yang biasanya mengecek etalase ini Mbak  Estya karena kebetulan rumahnya dekat masjid,’’ kata Puri.

Puri merupakan salah seorang inisiator etalase nasi gratis di Madiun. Sudah tiga bulan kegiatan sosial itu dilakoni bersama tiga rekannya. Yakni, Aria, Estya, dan Wempy. ‘’Saya, Mbak Esty, dan Mbak Wempi teman di komunitas sosial yang  sama,’’ ungkapnya.

Ide itu muncul bermula saat Puri melihat gerakan bagi-bagi nasi bungkus gratis dalam etalase di Bandung dari media sosial. Dia lantas mengajak Estya dan Wempy menggelar etalase nasi gratis di Madiun. ‘’Kebetulan waktu itu di Madiun belum ada,’’ bebernya.

Pertengahan November 2018, mereka survei ke beberapa bengkel pembuatan etalase. Mengetahui harganya terbilang mahal -Rp 1,6 juta—Rp 1,8 juta- ketiganya memilih menabung terlebih dahulu. Sembari menunggu uang terkumpul, Puri dkk membuka rekrutmen relawan etalase melalui medsos.

‘’Karena kalau hanya dikelola kami bertiga pasti kerepotan,’’ sebutnya. ‘’Akhirnya dapat donatur yang mengaku sudah lama ingin berbagi nasi gratis, tapi nggak menemukan lokasi yang pas,’’ imbuhnya.

Ketiganya pun langsung bebagi tugas. Puri mengisi stok minuman. Sedangkan Estya menyumbang 20 nasi jotos. Pada 15 November lalu etalase pertama ditempatkan di Masjid Al-Hidayah, Jalan Kemiri. ‘’Pertimbangannya dekat dengan rumah sehingga pengecekan lebih mudah,’’ imbuh Estya.

Hari pertama, 20 bungkus nasi ludes tak tersisa. Pun, siang harinya Puri mendapati orang memasukkan nasi ke  etalase. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang sedekah nasi bungkus. ‘’Kalau Jumat hampir semua etalase penuh,’’ sebutnya.

Beberapa waktu lalu, ada donatur yang tergerak menyumbang satu etalase. Kini, total 11 etalase yang dikelola Puri dkk. Belasan etalase itu tersebar di Kota Madiun, Caruban, dan Magetan. ‘’Yang empat masih proses pembuatan stiker,’’ jelas Estya.

Sementara, relawan yang bergabung gerakan itu saat ini jumlahnya sekitar 50 orang. Mayoritas adalah ibu rumah tangga yang memiliki usaha katering. Siswanya pegawai negeri dan karyawan swasta. ‘’Paling muda siswa kelas II SD. Dia rutin menyisihkan uang jajan untuk mengisi nasi di etalase, sesuai jadwalnya,’’ paparnya.

Ya, agar lebih efisien, relawan sepakat membuat jadwal pengisian nasi di grup WhatsApp. Kemudian, setiap etalase ada seorang koordinator yang membawahi 4-7 relawan. ‘’Jadwal fleksibel. Yang pasti, hampir setiap hari ada relawan yang menyumbang nasi,’’ terangnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here