Erdila Kristy Larasaty Terpaksa Resign demi Tuntaskan Novel Kedua

32

LITERASI adalah senjata perempuan menembus tembok kebodohan. Dengan menulis, ide, gagasan dan pemikiran bisa tertuang. Menulis juga menjadi sarana mewujudkan ekspresi diri. Hal inilah yang dilakukan Erdila Kristy Larasaty. Novelis berbakat asal Kota Karismatik ini telah menerbitkan dua novel yang laris di pasaran. ’’Novel pertama saya Starry Night, novel kedua Tinderelogy,’’ kata warga Perumahan Panorama Wilis ini.

Kegemaran membaca mengantarkan Erdila sebagai novelis. Kebetulan, ibundanya memang hobi membaca. Tak disangka, kegemaran itu menular pada gadis 27 tahun ini. ’’Waktu kecil dulu bacanya majalah Bobo,’’ kenangnya.

Menginjak SMP, Erdila mulai gemar menulis beragam cerita pendek. Itu berlanjut ketika SMA. Hanya, medianya berbeda. Saat berseragam putih abu-abu, dia rajin menuangkan ide cerita fiksinya itu dalam blog. ’’Kalau SMP cerpen-cerpen gitu, SMA lebih ke cerbung (cerita bersambung,Red),’’ jelasnya.

Hobi menulis fiksi tersebut seolah menjadi candu bagi sulung tiga bersaudara ini. Jika SMA menulis di blog, ketika kuliah Erdila nyaman menulis cerita fiksi di aplikasi Wattpad. ’’Lupa semester berapa mulainya, sepertinya semester IV,’’ jelasnya.

Ketika mulai disibukkan menyusun skripsi, Erdila mendapatkan tawaran dari penerbit besar asal Jakarta. Penerbit itu tertarik setelah membaca cerita saya yang berjudul Tinderelogy. ’’Ya ingin membukukan Tinderelogy,’’ ujarnya.

Namun saat itu kisah Tinderelogy belum rampug. Erdila menawarkan cerita tentang Starry Night untuk dibaca editor penerbit tersebut. ’’Dua minggu setelah itu saya dapat kabar, mereka suka dengan cerita saya dan mau menerbitkannya,’’ jelasnya sembari menyebut proses menyusun buku pertama membutuhkan waktu 6 bulan.

’’Justru yang paling menantang di buku kedua. Dua tahun saya baru menyelesaikannya,’’ imbuhnya.

Erdila sampai memutuskan resign dari pekerjaannya dan fokus menuntaskan novel kedua. Untuk mengembalikan mood setelah resign, Erdila mbolang ke Solo dan Jakarta. Di jakarta, bertemu dengan editor yang akan menerbitkan bukunya. ’’Kebetulan waktu itu ada seminar yang menghadirkan penulis-penulis dari penerbit itu. Puas jalan-jalan saya pulang ke Madiun lagi dan baru mood menulis,’’ ucapnya.

Alumnus jurusan Fisika Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) ini ingin memberikan semangat kepada perempuan yang hobi menulis untuk berani menulis. Sebab, kata dia, perempuan dengan kelebihan yang dia miliki mampu menyedot emosi pembaca. ’’Karena perempuan aspek emosinya lebih tinggi daripada laki-laki,’’ ujarnya.

Tantangan selanjutnya adalah menemukan style kepenulisan. Dia beberapa kali mengubah gaya menulis sampai akhirnya menemukan style atau ciri khas tersendiri. ’’Style ini misalnya, seperti baca tulisan Dewi Lestari, kita udah tahu kalau itu tulisannya Dee (Dewi Lestari, Red),’’ ungkapnya.

Lantas, bagaimana pendapat tentang sosok Kartini? Menurut Erdila, Kartini yang getol memperjuangkan keseteraan gender perempuan di Indonesia juga tidak lepas dari hobi menulis dan membaca. Tentu, perjuangannya melalui literasi yang dilakukan sangat menginspirasi. ’’Tugas kita bersama merawat dan menjaga semangat Kartini,’’ ujarnya. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here