Enam Tewas Direnggut DBD

15

NGAWI – Enam nyawa melayang terenggut demam berdarah dengue (DBD) selama kurun waktu Januari-Mei 2019. Dinas kesehatan (dinkes) menyebut, masih adanya korban meninggal akibat DBD tidak terlepas dari minimnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan.

Kabid P2P Dinkes Ngawi Endah Pratiwi mengatakan, enam korban tersebut seluruhnya meninggal di rumah sakit. Perinciannya, tiga meregang nyawa pada Januari dan masing-masing satu pada Maret, April, dan Mei. ‘’Ini (enam pasien DBD meninggal di rumah sakit, Red) jadi atensi. Apa ada yang salah dengan pelayanannya,’’ ujar Endah kemarin.

Terkait hal itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi. Hal itu dilakukan lantaran tiap kali ada pasien DBD yang meninggal pihak rumah sakit selalu menyebut bahwa kematian akibat terlambat dirujuk ke rumah sakit. ‘’Tiap puskesmas sudah punya alat untuk mendeteksi DBD,’’ ungkapnya.

Satu hal lagi yang dikeluhkan Endah terhadap tiga rumah sakit yang ada di Ngawi. Seluruhnya, lanjut dia, selalu terlambat melaporkan KDRS ke dinkes. Padahal, KDRS penting adanya untuk melakukan pemetaan epidomologi. Yakni penentuan titik-titik perkembangan atau sarang nyamuk aedes aegypti supaya pemberantasan tepat sasaran.

Endah mengatakan, nyamuk aedes aegypti biasa berkembang biak selama musim penghujan. Yakni, di genangan-genangan air. Pun, dia berharap masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan masing-masing. ‘’Saya yakin tidak akan ada DBD lagi kalau pemberantasan sarang nyamuk benar-benar dilakukan. Tidak hanya sekali dua kali saja, harus serentak dan berkala. Kalau fogging itu cuma untuk membasmi nyamuk dewasa, tidak ke jentik-jentiknya,’’ ungkapnya. (den/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here