Empat Perempuan Penjual Layanan Esek-Esek Diciduk

174

MEJAYAN – Penjaja cinta itu tak muda lagi. Tiga tahun lagi genap kepala empat. SU, perempuan dari Ngantang, Malang, itu menjajakan diri di warung remang (warem) Pajaran, Saradan. Dua kali ini dia ditangkap satpol PP. Jera. Tapi tak punya pilihan lain.

Delapan tahun sudah dia melakoni bisnis esek-esek karena terdesak faktor ekonomi. Terutama untuk biaya pemulihan pasca-operasi mata orang tuanya. Kendati penghasilan yang diperoleh tidak seberapa. Rata-rata sehari uang yang dikantongi dari 2-3 pelanggan tak genap Rp 300 ribu. ‘’Saya juga harus mengurus empat anak setelah ditinggal pergi suami tanpa kabar,’’ kata perempuan 37 tahun itu.

Kemarin (11/10), di warem Pajaran, Saradan; dan Karanglo, Wonoasri, Satpol PP Kabupaten Madiun juga menciduk tiga pekerja seks komersial (PSK). Rata-rata usianya pun sepantaran dengan SU. Mereka Lam, 39, asal Sawahan, Nganjuk; Win, 38, Karas, Magetan; dan Ris, 40, Karangtengah, Wonogiri. Dua di antaranya ditangkap seusai melayani pria hidung belang. ‘’Yang satu ditangkap ketika sedang nongkrong dan satunya berusaha kabur,’’ ujar Kabid Tribumtranmas Satpol PP Kabupaten Madiun Krisna Setiyawan.

Krisna memastikan, tiga dari empat PSK yang diciduk merupakan wajah lama. Berdasar arsip pemeriksaan, ada yang tercatat sudah diamankan sebanyak dua hingga tiga kali. Anggotanya pun tidak percaya ketika disodori pernyataan sekadar singgah sebagai dalih agar tidak ditangkap.

Mereka tetap dibina, diperiksa voluntary counselling and testing (VCT) lalu dilimpahkan ke dinas sosial (dinsos) untuk ditindaklanjuti. ‘’Dibawa ke Kediri (UPT Rehabilitasi Sosial Tunasusila, Red) untuk memperoleh pembinaan dan dibekali soft skill,’’ tuturnya.

Penertiban memang tidak berbanding lurus dengan efek jera setelahnya. Menurut Krisna, semua kembali ke pribadi masing-masing. Pihaknya tidak henti-henti memberikan pemahaman terhadap pekerjaan layak. Mereka juga mendapatkan pembinaan selama direhabilitasi. ‘’Kami akan terus berupaya menghapus prostitusi,’’ tegasnya.

Satpol PP pun berencana menjajaki komunikasi dengan dinas perdagangan koperasi dan usaha mikro (dinperdakop-UM). Keberadaan PSK bisa tereduksi bila pemilik warung berkomitmen menolak tempat mata pencariannya disusupi prostitusi. ‘’Kami komitmen mendukung salah satu visi dan misi kepala daerah, yaitu berakhlak,’’ tekannya. (cor/c1/fin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here