Elloy Doohan, Dalang Muda yang Memainkan Wayang Ringkes

37

Meski tak tamat kuliah jurusan pedalangan, nama Elloy Doohan jadi referensi mengisi gelaran wayang kulit. Lain dari yang lain, pedalang muda 20 tahun ini meringkas cerita pewayangan dalam setiap pentasnya.

———————-

FATIHAH IBNU FIQRI, Mejayan

GAYA sanggitan wayang kulit Elloy Doohan tidak jauh beda dengan pedalang pada umumnya. Setiap tokoh wayang disajikan sesuai peran masing-masing. Gerakannya juga seirama dengan iringan tabuhan parawiyaga dan lengkingan suara waranggana. Akan tetapi, untuk urusan cerita pewayangan, apa yang tercantum pada kitab tidak saklek dipedomaninya. ‘’Kalau lainnya memainkan wayang semalam suntuk, saya wayang ringkes,’’ kata Edo –sapaan akrab Elloy Doohan.

Meski sama-sama digelar hingga dini hari, wayang ringkes memangkas alur cerita dari yang biasa dibawakan semalam suntuk. Beberapa babak tidak dimasukkan seperti limbukan atau menampilkan tokoh para abdi Kurawa. Kendati demikian, tetap ada goro–goro atau penampilan punakawan. ’’Jadi tetap satu lakon dengan cerita yang sama penuh,’’ ujar pemuda 20 tahun ini.

Warga Kelurahan Krajan, Mejayan, Kabupaten Madiun ini tetap mendalami seluruh urutan lakon pewayangan pada cerita Mahabarata atau Ramayana. Hanya, seiring perkembangan dunia pewayangan, setiap dalang punya versi sendiri untuk menyuguhkan cerita kepada penonton. Tidak ada pakem khususn. Yang terpenting, peringkasan itu tidak menghilangkan makna dan pelajaran yang bisa dipetik atas cerita pewayangan. ‘’Wayang tidak sekadar tontonan tapi tuntunan. Tergantung para penonton menafsirkannya,’’ ucapnya.

Edo mengenal wayang saat SMA. Kala itu, dia memberanikan diri berguru kepada para dalang yang tinggal di Madiun Raya. Temponya tidak secara berkala, melainkan sekadar bertanya-tanya. Seingatnya lebih dari 10 pedalang yang diserap ilmunya tentang cara mendalang dan filosofi wayang. Hingga akhirnya memutuskan untuk kuliah jurusan pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. ‘’Tahun lalu saya keluar karena masalah biaya. Sekarang bikin usaha kuliner,’’ paparnya.

Kendati tidak berkuliah dan menekuni bisnis, nama Edo sebagai pedalang malah terdengar. Hingga kini sudah diundang mengisi acara wayang sebanyak tiga kali. Dia berharap kesenian wayang bisa bergeliat di Kabupaten Madiun. ‘’Misalnya, bikin event pada peringatan Hari Wayang Dunia 7 November,’’ katanya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here