Eksistensi Wayang Menghilang

40

Hanya segelintir anak remaja yang mau mengenal dunia wayang hingga getol mempelajarinya. Alarm bahaya bagi kesenian yang sudah diakui UNESCO ini. Tergerus modernisasi atau tersisih dalam dunia pendidikan?

………………

KITA patut bersyukur ada Sanggar Pasopati yang masih konsen menularkan kesenian wayang kulit kepada anak-anak. Sedikitnya 20 remaja tekun menimba ilmu seni pementasan warisan budaya Jawa di sanggar Desa Duri, Slahung, Ponorogo itu. ‘’Setiap seminggu sekali bersama teman-teman belajar seni wayang,’’ kata Satriana Rendra Panduwijaya, salah seorang siswa Sanggar Pasopati.

Pandu –sapaannya– terketuk untuk melestarikan wayang hingga bercita-cita menjadi dalang. Banyak pelajaran dan nilai hidup dari kisah pewayangan bisa didapatkan. Belum lagi olah rasa yang diperoleh ketika belajar suluk, odo-odo, hingga udo negoro yang mengatur tata letak wayang kulit menyesuaikan peran dan babak. ‘’Juga menghafal kitab untuk membawakan sebuah lakon,’’ ujar remaja yang pernah tampil dalam festival ulang tahunnya Ki Dalang Manteb Soedharsono itu.

Sanggar Pasopati jauhnya belasan kilometer dari pusat kota. Puluhan anak yang belajar di sana mayoritas remaja desa dari luar daerah. Seperti Madiun, Trenggalek, Ponorogo, hingga terjauh Lampung. Kegiatan belajar seni pewayangan langka dijumpai di perkotaan. Remaja milenial terbius dengan gadget dan bentuk modernisasi lainnya. HIngga membuat rendah minat mengenal warisan leluhur yang sudah diakui UNESCO tersebut. ‘’Wayang? Ngantuk lihatnya. Mending nonton film atau main game,’’ kata Ridho Yudha Anggara, bocah kelas VII SMP.

Frengki Ardiansyah juga menilai wayang tidak ada menariknya. Pengetahuannya tentang wayang datang dari salah satu jenis game online. ‘’Salah satu karakter ada Gathotkaca, tapi ganti jenis game lain karena tidak menarik,’’ katanya.

Wayang tersisih karena modernisasi diamini Supriyono, salah seorang anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Magetan. Tidak hanya anak muda, kalangan dewasa pun tidak banyak tahu tentang tokoh-tokoh pewayangan. Namun, rendahnya dukungan pengembangan pendidikan bahasa Jawa dari pemerintah juga turut memengaruhi. ‘’Di dalam pelajaran bahasa Jawa berisi tentang dunia pewayangan,’’ ucapnya.

Supriyono memandang wayang bukan sekadar tontotan, melainkan tuntunan. Karena pada setiap tokoh dan karakter mengandung karakteristik manusia dan filosofi dalam hidup. ‘’Memuat ajaran budi pekerti dan moral,’’ tuturnya. (nur wachid-septian reska/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here