Opini

Ekonomi Berbasis Lokal

ADA yang bilang saya suka bersepeda. Ya, saya memang suka berolahraga. Ada beberapa olahraga yang masih saya lakukan rutin sampai sekarang. Mulai golf, renang, dan bersepeda. Bersepeda ini yang paling sering. Orang bilang lagi musimnya.

Kota Madiun punya kampung tangguh yang kita lombakan. Setiap meresmikan, saya datangi dengan bersepeda. Biasanya sore hari. Sabtu dan Minggu kemarin saya juga bersepeda. Kali ini waktunya pagi. Sengaja pagi untuk meninjau jalur wisata sepeda hingga ke titik potensi di tingkat kelurahan.

Ya, ke depan akan ada jalur sepeda untuk wisata. Rutenya sampai di tingkat kelurahan pinggiran. Kita sebut wisata karena melewati potensi-potensi wisata di kelurahan. Memang ada? Ya kita adakan. Wisata tentu bukan hanya soal alam. Bisa wisata buatan atau wisata kuliner dan belanja. Itu yang sedang kita siapkan saat ini. Ada tim ekonomi kreatif yang saya minta menyiapkan itu. Tim ini terdiri berbagai organisasi perangkat daerah (OPD).

Urusan jalan ada DPUTR. Jalan calon jalur sepeda ini harus mulus. Saat ini tengah kita siapkan tiga jalur sepeda. Yakni, jalur 10 kilometer, 15 kilometer, dan 25 kilometer. Masyarakat bisa memilih sesuai keinginan dan kemampuan. Kemampuan fisik tentunya.

Tiga jalur ini dipastikan melewati kelurahan-kelurahan berpotensi. Untuk potensinya, urusan disbudparpora. Disbudparpora tentu sudah mengantongi titik-titik mana yang memiliki potensi itu. Sekali lagi, bukan hanya potensi alam. Tetapi bisa kuliner dan UMKM. Ini juga ada kaitannya dengan dinas perdagangan dan DPMPTSPKUM. Saya ingin rute ini melewati rumah pelaku UMKM unggulan Kota Madiun.

Urusan rambunya, jadi kewenangan dishub. Kalau kurang terang, disperkim masuk dengan program penerangan jalan umumnya. Diskominfo bagian promosinya. Tentu harus ada dulu baru dipromosikan. Nah, OPD-OPD ini yang saya sebut tim ekonomi kreatif. Karena semuanya terkait. Sabtu lalu, saya sudah mencoba rute yang 15 kilometer. Melewati sejumlah daerah pinggiran tadi. Ada banyak potensi di sana. Salah satunya kuliner.

Ada banyak pelaku UMKM kuliner berbasis rumahan. Karena di kawasan pinggiran, suasananya jadi sedikit berbeda. Ada nuansa alaminya karena berdekatan dengan areal persawahan. Tentu ini jadi daya tarik tersendiri. Saya ingin para pelaku UMKM ini tetap bisa berjualan biarpun dari rumah saja.

Pembeli yang kita datangkan ke rumah mereka. Melalui jalur sepeda wisata tadi. Tugas mereka menyiapkan produk sebaik mungkin. Juga kata-kata promosinya. Biar yang lewat tertarik untuk mampir dan membeli.

Mereka tidak perlu sewa tempat karena usaha dari rumah sendiri. Juga tidak perlu angkat-angkat barang dan perkakas. Begitu juga urusan air dan listrik yang bisa gabung di rumah. Ini tidak hanya bagi yang sudah punya usaha. Peluang juga terbuka untuk pemula. Siapa tahu ini jalan rezekinya. Buka usaha di jalur wisata sepeda.

Saya ingin masyarakat Kota Madiun jadi raja di rumah sendiri. Peluang dan potensi yang kita siapkan ini dimanfaatkan maksimal masyarakat kita sendiri. Karenanya, saya ingin mereka berlomba. Yang belum segera bersiap. Ke depan, ada banyak peluang lain yang kita buka.

Perdagangan dan jasa memang ladangnya masyarakat kota. Karenanya, titik-titik untuk berniaga terus kita munculkan. Kita sudah punya Sunday Market. Sebentar lagi, kita punya Pahlawan Street Center dan sentra kuliner Rimba Dharma. Ini juga titik-titik potensi untuk berjualan.

Masyarakat tidak perlu bingung pembelinya. Pemkot Madiun yang menghadirkan wisatawannya. Salah satunya, dengan pembangunan wajah kota yang menarik. Wisata jalur sepeda sampai di pinggiran ini bakal melengkapi apa yang di tengah kota.

Saya sudah menyiapkan videotron di Jalan Pahlawan. Videotron tersebut akan menampilkan informasi jalur sepeda 10, 15, dan 25 kilometer tadi. Tentu beserta potensi di dalamnya. Artinya, Jalan Pahlawan tetap jadi pintu utamanya. Tempat pertama yang dikunjungi. Setelah puas, bisa beralih ke daerah pinggiran tadi.

Kita juga punya bus wisata. Yang Namanya Mabour alias Madiun Bus on Tour itu. Memang belum kita jalankan biarpun sudah banyak yang penasaran. Ada syarat bagi yang ingin mendapatkan layanan itu. Kalau di Surabaya harus pakai sampah botol plastik, calon penumpang Mabour ini harus berkeliling minimal di lima kelurahan terlebih dahulu. Kelurahan yang dilewati jalur sepeda wisata tadi. Artinya, mereka harus berkunjung dulu di lima kelurahan dulu untuk dapat naik bus wisata itu. Ada stempel khusus di tiap kelurahan. Calon penumpang wajib mengumpulkan itu.

Mungkin sedikit ribet. Tapi ini berdampak luar biasa bagi masyarakat. Ini bisa jadi promosi langsung. Jalur wisata sepeda dan potensi di tiap-tiap kelurahan tadi. Ini merupakan upaya Pemerintah Kota Madiun mendatangkan wisatawan tadi. Masyarakat tidak perlu khawatir bakal ramai atau sepi. Yang terpenting, segera bersiap diri.

Saya memang ingin pelaku-pelaku UMKM tadi tetap bergerak biarpun pandemi. Ini seperti yang diharapkan Presiden Jokowi. Penanganan mengedepankan intervensi berbasis lokal. Penanganan berbasis kelokalan ini tidak hanya urusan kesehatan. Tapi juga perekonomian.

Urusan kesehatan sudah ada Pendekar Waras untuk menekan penularan. Urusan perekonomian ada tim ekonomi kreatif dengan terobosan jalur wisata sepeda tadi. Kesehatan terus kita galakkan. Tetapi ekonomi juga harus berjalan. Penataan ekonomi juga melibatkan masyarakat. Itu sesuai dengan arahan bapak Presiden, intervensi berbasis lokal. Kalau yang ini, ekonomi berbasis lokal. (*)

*Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close