Dwenty, Grup Musik Ledhug yang Digawangi Depohar 20 Lanud Iswahjudi

78

Sejumlah personel Depo Pemeliharaan (Depohar) 20 Lanud Iswahjudi ternyata memiliki bakat musik. Mereka disatukan dalam grup Ledhug Budoyo Dwenty. Kelompok kesenian dengan pelatih Letda Sulistiono itu bakal tampil dalam tasyakuran HUT Depohar 20 hari ini.

ALUNAN musik yang terdengar dari halaman gedung Satuan Pemeliharaan (Sathar) 21 Lanud Iswahjudi itu terdengar unik. Perpaduan bunyi beduk, lesung, drum, dan organ menyatu dengan alat musik korek yang biasa dipakai dalam kesenian dongkrek.

Tidak lama berselang muncul empat pasang penari laki-laki dan perempuan menari lemah gemulai mengikuti irama musik yang dimainkan sejumlah prajurit TNI-AU itu. ‘’Sedang latihan untuk pertunjukan besok (hari ini, Red),’’ kata Letda Sulistiono, koordinator kesenian ledhug Depohar 20 Lanud Iswahjudi.

Sudah dua pekan ini mereka latihan untuk mengisi acara tasyakuran HUT Depohar 20 ke-20 yang digelar hari ini. Sesuai rundown acara, 25 personel seni ledhug itu akan menghibur tamu undangan di sesi ramah tamah seluruh prajurit yang merupakan pengujung rangkaian acara. ‘’Di akhir acara kan ada penayangan video sejarah Depohar 20, musik Joe Band, baru setelah itu kesenian ledhug,’’ ujarnya.

Ledhug berasal dari kata lesung dan bedhug, sesuai keberadaan dua peranti itu sebagai instrumen utama. Zaman dahulu kesenian tersebut biasa dipentaskan petani sembari menunggu panen raya tiba. ‘’Ditampilkan dalam HUT Depohar 20 ke-20 ini dalam upaya melestarikan kesenian tradisi di Magetan,’’ tuturnya.

Agar beda dengan kesenian ledhug pada umumnya, Sulistiono dkk sengaja mengkreasikan dengan penambahan alat musik modern seperti piano. ‘’Juga menampilkan cerita etnik dengan versi komedi,’’ terangnya.

Ada empat tokoh sentral dalam cerita tersebut. Yakni, Sekartaji, Panji Asmoro Bangun, Enthit, dan Ragil Kuning. Ditambah delapan penari latar. ‘’Lagu yang akan ditampilkan nanti Korban Janji dan Perahu Layar,’’ tutur Sulistiono sembari menyebut latihan digelar setiap hari dari pukul 15.00 sampai 17.30.

Uniknya, puluhan personel itu sebelumnya belum pernah bersentuhan alat musik kesenian ledhug. Seolah bakat bermusik mereka baru terdeteksi ketika disatukan dan menjalani latihan rutin. ‘’Belum pernah belajar sebelumnya, tapi ternyata teman-teman bisa,’’ ujarnya.

Pentas kesenian ledhug ini dipastikan menjadi yang pertama di Depohar 20. Sekaligus upaya mengenalkan seni tradisional tersebut ke khalayak luas. ‘’Nama grup kesenian kami Ledhug Budoyo Dwenty,’’ sebut Sulistiono.

Pentas grup kesenian Ledhug Budoyo Dwenty di HUT Depohar 20 tidak terlepas dari dukungan Komandan Depohar 20 Kolonel Lek Soegeng Ryady. ‘’Nguri-uri budaya lokal Magetan itu penting untuk mengangkat kesenian daerah,’’ ucapnya. ***(isd/c1)