Durian Persilangan Montong-Lokal Ini Tumbuh Subur di Ngebel

92

Sebelum musim durian berlalu, tak ada salahnya memperkenalkan durian kanjeng. Jenis durian dari Ngebel ini cukup digemari karena manis-pahit rasanya pas di lidah. Tidak enek dan tidak membuat perut panas. Jenis durian ini merupakan hasil persilangan antara jenis montong dengan lokal Ngebel.

—————–

SENGAT aroma durian tercium hingga radius lima meter. Menggoda siapa saja untuk segera membelahnya. Di balik kulitnya yang hijau, isinya mutlak berwarna putih. Tidak kekuning-kuningan seperti durian pada umumnya. Ukurannya jumbo, sebesar jenis montong. Manis yang ditawarkan jauh dari kesan enek. Ada sedikit rasa pahit yang bisa membuat ketagihan setiap pencicipnya. Di perut juga tidak terasa panas. Itulah keunggulan durian kanjeng asli Ngebel.

Dwi Supriyadi bukanlah satu-satunya petani durian di Ngebel. Hampir setiap rumah di kawasan tersebut memang memiliki pohon durian. Tidak heran jika wilayah Ngebel menjadi surganya durian di Bumi Reyog. Tidak heran juga usai tamat SMA, mayoritas warga setempat memilih menjadi petani durian. Seperti yang dilakoni Dwi Supriyadi selepas lulus SMA 2014 lalu. Dia bersama petani durian lainnya gigih mengangkat Ngebel menjadi surganya durian. ‘’Ini meneruskan usaha orang tua,’’ lanjutnya.

Dwi pun sukses menjadi petani muda durian. Lahan satu hektar telah ditanami pohon durian. Baik durian lokal maupun durian montong. Dari situlah dia berinisiatif menanam varian durian lainnya. Saat gembor-gembornya durian kanjeng kali pertama 2013 silam, Dwi mulai penasaran. Awalnya dia mencoba menanam satu bibit. Setelah beberapa bulan, dia melihat perawatan durian kanjeng tidak sesulit durian montong dan lokal Ngebel. Terutama pada pemberian pupuk. Cukup dengan pupuk organik, durian kanjeng sudah mampu tumbuh dengan baik. ‘’Dari sisi perawatan juga lebih gampang,’’ ungkap anak ke dua dari tiga bersaudara pasangan Sudarno-Sumilah itu.

Selain perawatan, perbedaan mencolok durian kanjeng dan durian montong terletak pada warna kulit. Durian kanjeng memiliki kulit berwarna hijau. Sementara kulit durian montong berwarna kuning keemasan. Selain itu, dari segi rasa berbeda. Durian kanjeng memiliki rasa manis dan sedikit pahit. Tidak membuat perut panas. Itulah yang membuat durian kanjeng banyak dicari. Dari situlah dia mulai menambah bibit durian kanjeng untuk ditanam. Meski baru lima, baginya itu melengkapi varian durian yang ditanam di kebunnya. Tidak terhitung berapa banyak pohon durian di kebunnya. Untuk pohon berumur 15 tahun ke atas, tiap kali panen bisa menghasilkan 100-1.000 durian. Sementara umur empat tahun biasanya lima sampai sepuluh buah tiap kali panen. Tiap panen, dia mampu meraup omset Rp 10-15 juta per pohon. Dalam setahun biasanya bisa sampai dua kali panen. Tergantung dari cuaca. Panen raya di daerah itu bisa dinikmati pada bulan Januari hingga Juni. ‘’Ada pasar malam durian biasanya kalau pas musim panen raya kayak gini, biasanya bulan depan,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here