KriminalitasMadiun

Duo Ratu SS Divonis 18 dan 15 Tahun

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Madiun memberi keringanan hukuman kepada Siti Artiyasari, 38, dan Natasya Harsono, 23, dua terdakwa kepemilikan sabu-sabu (SS) empat kilogram Rabu (23/10). Sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) kejaksaan negeri (kejari) setempat menuntut duo ratu SS ini 20 tahun penjara dikurangi masa penahanan.

Namun, hakim memvonis Siti 18 tahun penjara dan Natasya 15 tahun penjara. Perihal denda dan subsider, hakim memutuskan sama dengan tuntutan JPU. Siti didenda Rp 1 miliar dan tambahan hukuman 1,5 tahun penjara bila tidak sanggup membayar. Sedangkan Natasya ditambah penjara satu tahun bila tidak bisa membayar denda Rp 1 miliar. ‘’Putusan ini mempertimbangkan segala aspek,’’ kata Ketua Majelis Hakim PN Kabupaten Madiun Teguh Harissa usai sidang.

Teguh menjelaskan, Siti dihukum lebih tinggi karena paling aktif dalam perkara ini. Seperti berangkat ke Pekanbaru, Riau, dan mengirimkan paket SS ke Kabupaten Madiun lewat jasa pengiriman. Pun dalam keterangan terdakwa dalam persidangan, Natasya jauh lebih jujur. Itu jadi hal memberatkan karena bertentangan program pemerintah dan berpeluang merusak generasi muda. Sedangkan menyesali perbuatan dan bersikap sopan selama persidangan menjadi hal meringankan. ‘’Hukuman adil sesuai kesalahannya,’’ ujarnya.

Sebelum Teguh membacakan amar putusan Siti dan Natasya sah dan meyakinkan melakukan permufakatan jahat. Melanggar pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 Undang-Undang (UU) 35/2009 tentang Narkotika. Hakim anggota Bunga Meluni Hapsari membacakan naskah putusan selama setengah jam sejak pukul 12.45. Duo ratu SS duduk tenang di kursi pesakitan mendengarkannya.

Mulai  fakta-fakta persidangan dan hasil agenda persidangan sejak dimulai akhir Agustus lalu. Salah satunya, tugas pertama kali mengirimkan paket SS seberat tiga kilogram dari Batam ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Juga bantahan saksi Edmon Gani, narapidana Lapas Kelas I Madiun, mengenal dan memerintah Siti untuk menjadi kurir obat-obatan terlarang tersebut. Serta pembelaan dari penasihat hukum (PH). ‘’Dua terdakwa diberi waktu tujuh hari untuk pikir-pikir terhadap putusan,’’ kata Teguh sebelum mengetuk palu menutup sidang.

Nur Amin, salah seorang JPU, mengatakan, meski vonis lebih rendah dari tuntutan, belum bisa menjamin akan banding. Pihaknya perlu melapor ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur selaku atasannya. Mengingat perkara ini termasuk kejahatan besar. ‘’Kalau terdakwa banding, kami tentu banding. Tapi, kalau tidak, ya belum tahu nanti apa keputusannya,’’ ujarnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close