Dulu Pekerja Serabutan, Kini Juragan

111

Lewat makanan olahan hasil ide kreatifnya, hidup Sukiran berubah 180 derajat. Dari awalnya hanya pekerja serabutan, pria 48 tahun itu kini menjelma menjadi pengusaha tahu tuna sukses yang memiliki puluhan karyawan.

——————-

BUTUH perjuangan keras bagi Sukiran hingga menjelma menjadi pengusaha tahu tuna sukses di Pacitan. Pria yang akrab disapa Pak Ran itu awalnya hanya pekerja serabutan. Mulai kuli bangunan hingga kuli angkut. Sempat pula dia menjajal peruntungan dengan berjualan ikan. ‘’Sehari paling cuma dapat Rp 10 ribu. Kalau sedang mujur Rp 15 ribu,’’ kenangnya.

Pintu rezeki mulai terbuka sejak Pelabuhan Tamperan dibuka. Seiring melimpahnya hasil tangkapan tuna, harga jenis ikan itu terbilang murah meriah. Bahkan, sempat menyentuh Rp 3 ribu saja per kiloram.

Pak Ran dan istrinya lantas mencoba peruntungan dengan menjual ikan bakar dan pepes ikan. Pada 2009 muncul ide mengolah sebagian daging ikan tuna untuk isian tahu. ‘’Akhirnya beli tahu Rp 5 ribu dan diisi tuna. Jadi 10 bungkus berisi enam biji,’’ ujarnya.

Tahu tersebut dijual keliling bersama dagangan lainnya. Dari kelurahan Sidoharjo, Ploso, hingga Pasar Minulyo. Dengan harga jual Rp 2.500, ternyata makanan olahan itu laris manis. ‘’Masukan pelanggan saya tampung. Ada juga yang minta adonan bawang mentah diganti bawang goreng,’’ bebernya.

Seiring waktu, pelanggan tahu tuna hasil olahan Pak Ran semakin bertambah. Puncaknya pada 2010 silam. Dia sampai kewalahan memenuhi permintaan. ‘’Dulu cuma dikerjakan berdua dengan istri, sekarang punya 30-an karyawan,’’ ungkap pria kelahiran 10 Januari 1971 ini.

Usaha tahu tuna Pak Ran semakin berkibar setelah mendapat bantuan peralatan dari Dinas Perikanan Pacitan. Sejak itu kapasitas produksi meningkat hingga menjadi 500 bungkus per hari. Bersamaan itu, permintaan kemitraan dari sejumlah kota besar mengalir deras. Pun. produksi tahu tunanya sempat dikirim ke Papua lewat kenalannya asal Pasuruan. ‘’Tapi tidak berlangsung lama karena pembayaran seret,’’ sebutnya.

Bisnis tahu tuna Pak Ran pun sempat terpilih menjadi usaha kecil dan menengah (UKM) terfavorit tingkat nasional sejak 2011 hingga 2014. Sampai-sampai dia beberapa kali diundang menjadi pembicara seminar untuk menularkan kiat suksesnya. ‘’Tiga kali di Jakarta dan sekali di Manado,’’ kenangnya.

Meski telah menjelma menjadi pengusaha sukses, Pak Ran tetap bersahaja. Kesederhanaannya dalam berpenampilan membuatnya kerap dikira penjaga malam, petugas kebersihan, dan tukang parkir oleh pengunjung gerai tahu tunanya. ‘’Ada yang tanya sudah lama kerja jadi petugas kebersihan di sini? Ada juga yang ngasih uang parkir,’’ ujarnya. (odi/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here