Dulu Kuli Angkut Ikan, Pak Ran Kini Jadi Juragan Tahu Tuna

417

PACITAN – Bukan brand Eza Mandiri, tapi Pak Ran yang lebih dikenal. Bahkan, hingga seberang lautan. Kompletnya, Tahu Tuna Pak Ran. Berasal dari nama empunya usaha, Sukiran. Sedangkan Eza Mandiri diambil dari nama anaknya Reza. Nama panjangnya Muhammad Reza Abidin. ‘’Itu juga karena izin usahanya tidak boleh didaftarkan atas nama sendiri (Pak Ran, Red). Disarankan pakai nama anak oleh dinas perizinan, akhirnya langsung kepikiran Eza Mandiri,’’ kata Pak Ran kemarin.

Warga Pacitan hampir semuanya tahu Pak Ran. Tidak hanya karena pengusaha tahu tuna terbesar, pria kelahiran 10 Januari 1971 itu juga pionirnya tahu tuna di Kota 1001 Gua. Saking tenarnya, banyak penjaja tahu tuna memakai namanya. Entah itu mitranya atau bukan. Jualannya di beberapa daerah tetangga hingga luar Jawa. ‘’Peredaran terbesar di Jawa-Bali. Pernah juga ke Kalimantan dan Palembang (Sumatera),’’ ujarnya.

Tahu Tuna Pak Ran sempat dirasakan ujung timur Indonesia. Dikirim ke PT Freeport bersama logistik lainnya oleh kenalan asal Pasuruan. Sayang, kerja sama tersebut tidak berlangsung lama. Suami Sri Sumiati ini waswas dengan pembayaran yang empet-empetan. Kini Pak Ran intens membangun kemitraannya. Jumlahnya puluhan. Tidak hanya di Pacitan, juga daerah lainnya. Selain tahu tuna, Pak Ran punya kurang lebih 15 item makanan. ‘’Bakso tuna, sosis, naget, otak-otak, lumpia, martabak, dan lainnya,’’ bebernya.

Dalam sehari, Pak Ran mampu memproduksi sekitar 500 bungkus tahu tuna. Setiap harinya satu hingga dua kuintal ikan tuna segar dibutuhkannya. Pak Ran dibantu 30 karyawan. Masing-masing bertugas memfilet ikan, mengaduk dan mengisi adonan daging ikan tuna ke tahu, merebus, hingga mengemasnya. ‘’Di outlet ada lima karyawan lain,’’ sebutnya.

Kesuksesan tersebut membuat usahanya jadi unggulan usaha kecil menengah (UKM) terfavorit tingkat nasional sejak 2011 hingga 2014. Pak Ran pun mendapat perhatian khusus dari  Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Balitbang KKP). Dia diminta memaparkan kisah suksesnya membuka usaha tahu tuna. ‘’Tiga kali di Jakarta dan sekali di Manado,’’ terangnya.

Pencapaian tersebut tidak mudah. Awalnya, pria kelahiran Desa Campurasri, Karangjati, Ngawi, ini ke Pacitan untuk melanjutkan pendidikan ke SMIK Pacitan. Setelah lulus, dia sempat merantau ke Malaysia bekerja di perkebunan karet. Hanya bertahan tiga tahun. Dia pun pulang dan mempersunting istrinya. Selebihnya, bungsu tujuh bersaudara itu pun bekerja serabutan. ‘’Kuli bangunan, kuli angkut ikan, hingga pedagang ikan keliling kecil-kecilan. Sehari dapat Rp 10 ribu, kadang bisa dapat Rp 15 ribu,’’ jelasnya.

Pembangunan dan mulai dioperasikannya Pelabuhan Tamperan sekitar 2008 lalu jadi berkah bagi Pak Ran. Tangkapan ikan tuna melimpah. Harganya pun paling murah. Per kilogram Rp 3.000. Sedangkan untuk kualitas bagus hanya Rp 6.000. Tidak jarang, pembelian sekadar mengandalkan angan-angan. ‘’Satu kotak itu tak beli sekian,’’ kenangnya.

Peluang tersebut dimanfaatkan. Selain menjual ikan bakar dan pepes, Pak Ran dan Sri selalu berkreasi membuat menu lainnya. Idenya spontan. Mendadak Pak Ran dan istrinya kepikiran membuat tahu dengan isian daging tuna awal Juni 2009 lalu. Uang Rp 5.000 miliknya digunakan untuk membeli tahu mentah. Sedangkan ikan tuna sekadar diambil dari jualan ikan bakar dan pepes miliknya. ‘’Akhirnya jadi 10 bungkus. Per bungkus berisi enam biji,’’ ungkapnya.

Tahu tuna tersebut dijual keliling dengan dagangan lainnya di kawasan Kelurahan Sidoharjo, Ploso, dan Pasar Minulyo. Per bungkus Rp  2.500. Ternyata kreasinya laku. Lantaran resep baru, Pak Ran pun nyambi survei pasar. Meminta saran dan masukan kepada pelanggannya. Keputusannya tidak salah. Rasa tahu tuna kreasinya makin ciamik. ‘’Ada yang suruh ganti adonan pakai bawang mentah ke bawang goreng juga,’’ bebernya.

Sejak memproduksi tahu tuna, perlahan pendapatannya terus berkembang. Jika biasanya Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu, sedikitnya jadi Rp 30 ribu. Perlahan penganan tahu tuna itu booming di Pacitan. Dapurnya pun makin ngebul. Konsekuensinya, Pak Ran dan istrinya harus rela kurang tidur. Tidak lebih dari empat jam. Maklum, kedatangan ikan tidak bisa dipastikan. Biasanya dini hari. Sementara itu, proses produksi terus dilakukan. ‘’ Selalu disambi-sambi. Bakar ikan, buat adonan, ngisi adonan. Kadang waktu kerja sambil merem,’’ cetusnya.

Manisnya permintaan pasar tidak disia-siakan Pak Ran dan istrinya. Produksi pun terus ditingkatkan. Meski begitu, permintaan tetap membeludak. Puncaknya 2010 lalu. Keduanya kewalahan mencukupi permintaan pasar. Untungnya, Pak Ran mendapat bantuan peralatan produksi dari dinas perikanan. Berupa mesin penggiling, pengadon, dan sanitasi. ‘’Akhirnya mulai stabil 2015 hingga sekarang,’’ jelasnya.

Meski sudah jadi juragan, Pak Ran terbilang unik. Penampilannya tidak berubah sejak awal memulai usaha. Tidak jarang, pelanggan tidak mengenalinya sebagai pemilik usaha Tahu Tuna Pak Ran. Dia sempat dianggap penjaga malam, petugas kebersihan, hingga tukang parkir di outlet-nya. ‘’Ada yang tanya, sudah lama kerja jadi petugas kebersihan di sini? Ada juga yang ngasih uang parkir,’’ ungkapnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here