Dugaan Awal Penyebab Keracunan Terpapar E.Coli dan Salmonella

144

MADIUN – Penyebab dugaan keracunan masal santri Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Desa Mojorejo, Kebonsari, mulai mengerucut. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur mengemukakan puluhan santri itu terinfeksi bakteri Escherichia coli (E.coli) dan Salmonella. Fakta awal itu mencuat setelah beberapa santri dikorek lebih dalam keterangannya. ‘’E.coli berkaitan dengan kebersihan anggota tubuh dan Salmonella mengarah ke daging ayam,’’ kata ahli surveilans dan epidemiologi  Dinkes Jatim Suradi.

Kemarin (11/2) tim dari organisasi perangkat daerah (OPD) tingkat I itu mendatangi langsung Puskesmas Gantrung, tempat santri dirawat. Dua dari tiga pasien yang masih diobservasi di Ruang Seruni dimintai banyak informasi. Mulai menu makanan yang dikonsumsi, jam menyantap, munculnya keluhan perut sakit, hingga kegiatan yang dilakukan sebelum makan. Keterangan tersebut lantas dipadukan dengan data-data yang dikumpulkan dinkes setempat. ‘’Dari aspek makanan dan waktu mengarah ke E.coli dan Salmonella,” ujarnya kepada Radar Mejayan.

Suradi menjelaskan, E.coli adalah kuman yang muncul akibat pencemaran tinja. Dalam kasus keracunan santri, pencemaran bisa saja terjadi di lingkungan pondok. Dia tidak bisa menduga bagaimana itu bisa terjadi. Bisa jadi menyebar dari seseorang yang tidak cuci tangan setelah buang air besar (BAB). Penularannya lewat kontak fisik dengan santri lainnya atau benda mati. ‘’Memungkinkan terjadi karena para santri ada kegiatan pramuka pada Jumat pagi (8/2),’’ tuturnya.

Menurut dia, kuman masuk dalam tubuh lewat perantara melon. Sejumlah responden yang ditanya mengaku menyantap buah itu sebelum soto ayam. Gambarannya adalah salah seorang santri tidak cuci tangan. Selain memakan sendiri, dia juga asal pegang-pegang untuk memilih buah yang sekiranya besar atau manis. Nah, buah yang tidak dipilih itu lantas diambil teman lainnya. ‘’Kondisi tersebut bisa menjelaskan ada santri yang cuma makan melon tanpa soto, tapi tetap mengeluh sakit perut,’’ terangnya.

Sedangkan bakteri Salmonella umumnya terinfeksi pada unggas. Bila dikaitkan nasi soto yang dikonsumsi santri, maka dugaan kuat terkontaminasi pada daging ayam. Hasil menggali keterangan responden, beberapa santri ada yang mengaku membuang daging soto olahan koki pondok itu. Rasanya dinilai berbeda dengan daging yang umumnya dimakan. Salmonella bisa muncul ketika daging yang diolah tidak segera dikonsumsi. Sebab, daging akan mulai membusuk. Idealnya maksimal enam jam sejak proses pengolahan. ‘’Pasien yang hanya makan soto ayam, tapi tidak melon, bisa jadi terkena Salmonella,’’ imbuh Suradi.

Indikasi dua bakteri tersebut cocok dengan inkubasi yang dialami pasien. Masa terpendek dari paparan kuman sampai timbulnya reaksi adalah empat setengah jam. Santri itu makan soto dan melon pukul 19.30 dan terasa mual 24.00. Sedangkan yang terlama adalah 17 jam. Mengonsumsi melon pukul 17.00 dan sakitnya baru muncul pukul 10.00, Sabtu (9/2). Rata-rata reaksi berlangsung enam hingga delapan jam sejak makanan disantap pukul 19.30. ‘’Tapi, untuk memastikan E.coli dan Salmonella itu masih menunggu hasil cek laboratorium,’’ katanya.

Dinkes mengujikan sisa makanan soto ayam dan potongan melon ke Balai Besar Laboratoium Kesehatan Surabaya. Detail soto itu irisan ayam, kecambah, kubis, mi, dan nasi. ‘’Kuah tidak disertakan karena sudah habis,’’ jelasnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here