Dua Terdakwa Tipikor Masih Bebas Berkeliaran

154

NGAWI – Sepanjang 2018 Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngawi berhasil mengungkap sejumlah kasus tindak pidana korupsi (tipikor). Namun, masih ada dua PR (pekerjaan rumah) yang belum rampung. Pertama, dua kasus dugaan penyimpangan penyaluran dana simpan pinjam koperasi di dinas koperasi dan usaha mikro (dinkop-UM) 2016. Kedua, menangkap dua tersangka tipikor yang masuk daftar pencarian orang (DPO).

Kepala Kejari (Kajari) Ngawi Waito Wongateleng menyampaikan kasus di dinkop-UM masih dalam proses penyidikan. Dia menyebut ada dua koperasi simpan pinjam (KSP) agribisnis yang disidik. Yakni, KSP Rukun Agawe Santosa dan KSP Sumber Rejeki. Keduanya diduga menyelewengkan pengelolaan dana bergulir dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop-UKM). Total bantuan yang digulirkan pemerintah Rp 500 juta untuk masing-masing KSP.

Namun, sejauh ini belum ada tersangkanya. Dia menjelaskan saat ini masih sebatas penyidikan umum. Yakni, menggali sejumlah keterangan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun penerima manfaat dana bergulir itu. ‘’Secepatnya akan kami umumkan jika sudah ditetapkan (tersangkanya),’’ ungkap Waito.

Informasinya, kejari bakal menetapkan tersangka awal bulan depan. Begitu juga jumlah kerugian negara yang masih dihitung Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). ‘’Sekarang masih proses penghitungan oleh BPKP untuk kerugian negara yang ditimbulkan,’’ terangnya.

Sedangkan dua orang buron, Sukmana Endy Wijaya dan Musyafak Khoirudin. Sukmana adalah terdakwa perkara penyimpangan proyek pembangunan ruang poliklinik RSUD dr Soeroto Ngawi 2009. Dia merupakan rekanan pelaksana proyek tersebut. Sedangkan Musyafak terdakwa perkara penyimpangan pengelolaan dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) 2008. ‘’Keduanya diperkirakan merugikan negara Rp 100 juta lebih,’’ sebutnya.

Sepanjang 2018 ini, kejaksaan sudah memburu kedua terdakwa tersebut. Pun akan terus dikejar sampai kapan pun. Pihaknya cukup kesulitan meringkusnya lantaran alamat tempat tinggal mereka berpindah-pindah. ‘’Tapi akan terus kami cari sampai tertangkap,’’ tegasnya.

Sepanjang 2018 ini pula Kejari Ngawi juga telah mengembalikan kerugian negara sebanyak Rp 212,5 juta ke kas negara dari hasil pengungkapan kasus tipikor. (tif/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here