Dua PL Tewas usai Tenggak Miras

899

MEJAYAN – Grace dan Tika alias Jihan, pemandu lagu (PL) di salah satu tempat karaoke di Kecamatan Mejayan, bernasib malang. Nyawa kedua pendatang itu melayang setelah menenggak puluhan botol minuman keras (miras) jenis bir.

Tika yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat, itu meninggal ketika dirawat di ruang instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Caruban. Rekannya asal Nganjuk mengembuskan napas terakhir tanpa sempat dilarikan ke IGD. Sumber internal RSUD Caruban mengungkapkan bahwa kejadiannya pada Selasa malam (18/12).

Tika masuk IGD pukul 23.52. Kondisi perempuan 29 tahun itu muntah-muntah dan tidak sadarkan diri. Nyawanya tidak tertolong setelah dirawat selama dua jam. Sumber ini pun sempat berkomunikasi dengan teman Tika yang ikut mengantarkannya ke rumah sakit. Perempuan itu diketahui sudah muntah-muntah sejak siang. Namun, masih tetap memaksa bekerja malamnya. ‘’Jenazah langsung diantarkan pulang,’’ katanya kemarin (23/12).

Win, salah seorang teman Tika sesama PL di tempat karaoke itu, membenarkan peristiwa tersebut. Namun, dia tidak berbicara banyak ihwal kegiatan sesaat sebelum rekannya itu tewas. Dia sebatas menyampaikan keduanya satu room melayani tamu yang sama. Tika  dilarikan ke RSUD setelah muntah-muntah. Sedangkan Grace pulang ke tempat kosnya. Di tempat tinggal sewaan itulah, Grace meninggal dunia. Dia tidak menjelaskan seperti apa kondisinya dan alasan tidak langsung dibawa ke rumah sakit.

Kapolsek Mejayan AKP Pujiyono telah memanggil manajemen tempat hiburan malam (THM), mami, dan sejumlah karyawan. Keterangan yang diperoleh, Tika dan Grace di-booking untuk menemani bernyanyi tamu sejak pukul 20.00. Ada sekitar enam orang dalam room tersebut. Mereka memesan 20 botol bir hitam dan putih. Kandungan alkohol lima persen. Selebihnya, tidak ada konsumsi yang janggal karena penyerta miras itu hanyalah kacang. ‘’Ada pemandu lagu lain yang ikut menenami. Tapi, yang sampai selesai hanya Grace dan Tika,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Sedangkan pem-booking belum dimintai keterangan karena tidak tahu siapa orangnya. Manajemen pun tidak tahu lantaran tidak ada proses pendataan identitas para tamunya. Namun, pemilik usaha sudah tidak asing dengan wajahnya. Sebab, setiap kali berkunjung selalu minta dilayani Grace dan Tika. ‘’Yang jelas tidak kali pertama datang sebagai tamu. Tapi, kalau intensitas sering tidaknya belum bisa memastikan,’’ papar kapolsek.

Meski diketahui menenggak bir, polisi tidak menyimpulkan penyebab tewasnya Tika karena overdosis. Melainkan lebih ke penyakit. Fakta itu muncul setelah membaca hasil rekam medik dan uji laboratorium yang menyatakan rekam jejak kesehatan Tika sangat buruk. Kadar gula dan kolesterolnya cukup tinggi. Menurut dokter, kondisi itu berbahaya bila mengonsumsi minuman beralkohol. ‘’Karena penyakit menahun, bukan overdosis. Meski jumlah birnya ada puluhan, yang meminum orang banyak,’’ tegasnya.

Disinggung soal Tika muntah-muntah sejak siang, Pujiyono tidak bisa memastikan. Pihaknya hanya fokus menggali keterangan aktivitas malam yang berujung pada kematian. Muntah itu, kata Pujiyono, bisa saja telah terjadi sejak sebelum melayani tamu sebelumnya. ‘’Mungkin korban sudah merasa tidak enak badan tapi tetap memaksakan diri demi tuntutan ekonomi,’’ imbuhnya.

Bagaimana dengan Grace? Pujiyono belum bisa memastikan. Versi dia, perempuan itu meninggal di Nganjuk. Masih minim informasi untuk menyimpulkan penyebab kematiannya. Pihaknya berencana menggali keterangan hingga ke Kota Angin—julukan Kabupaten Nganjuk. ‘’Sebatas ingin tahu agar ada kejelasan. Biar tidak simpang siur di masyarakat,’’ tuturnya.

Sementara, Kepala Humas RSUD Caruban Yoyok A. Setyawan pilih merahasiakan hasil pemeriksaan yang telah berjalan. (cor/c1/fin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here