Dua Hari Terendam Banjir, Petani Rugi Rp 1,8 M

92

PONOROGO – Para petani masih menanti kapan bantuan benih dapat disalurkan dari pemerintah provinsi. Bukan tanpa sebab, kerugian materiil (kermat) akibat banjir Rabu-Kamis dua pekan lalu tembus Rp 1,8 miliar. ‘’Kami sudah usulkan (bantuan benih ke provinsi). Namanya usulan, kapan dan berapa banyak yang disalurkan itu nanti wewenangnya provinsi,’’ sebut Kepala Disperta Ponorogo Harmanto.

Total, sekitar 1.700 hektare lahan pertanian yang terendam banjir di sejumlah kecamatan. Dari ribuan hektare, 305 hektare lahan dipastikan gagal panen alias puso. Data Kelompok Tani (Poktan) Mugi Mulia, setiap petani rata-rata bisa merugi sampai Rp 55 juta. Hitung-hitungan tersebut berdasarkan modal tanam di sepetak sawah. Sementara, di satu poktan saja (Poktan Mugi Mulia), sebelas hektare dipastikan gagal panen. ‘’Total data yang puso itu di seluruh Ponorogo,’’ tegasnya.

Harmanto mengamini bahwa kerugian cukup masif dirasakan petani khususnya di wilayah Paju. Maklum, hampir dua hari air menggenangi. Sementara, padi yang ditanam petani menjelang panen. ‘’Solusi lainnya adalah melindungi para petani lewat asuransi pertanian. Itu cukup meringankan kerugian,’’ kata dia.

Bagaimana tindaklanjut bantuan kepada para petani? Harmanto menyebut sudah mengusulkan bantuan benih ke pemprov. Total mencapai 7,6 ton. Dengan asumsi, setiap hektare mendapat bantuan 25 kilogram benih padi. Koordinasi terakhir dengan pemprov, mereka sudah menampung usulan namun belum dapat memastikan kapan dan berapa banyak yang akan disalurkan kepada para petani yang mengalami puso di Bumi Reyog. ‘’Usulan ini menindaklanjuti apa yang diutarakan Pak Wagub (Emil Elestianto Dardak) waktu berkunjung ke Paju. Pemprov berjanji memberi bantuan benih, khusus yang puso. Jangka panjangnya, perlu normalisasi sungai dan aliran air, terutama di seputar wilayah Paju,’’ imbuhnya. (naz/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here