Dua Desa Terdampak Kekeringan di Parang Digelontor 708 Ribu Liter Air Bersih

19
DAMPAK KEKERINGAN: Petugas PMI Magetan saat menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 6 ribu liter bagi warga di Dusun Balegondo, Desa Trosono, Kecamatan Parang, Senin (19/8).

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Bencana kekeringan masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi sejumlah daerah, terutama di Magetan. Sebab, panjangnya musim kemarau membuat warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Kendati demikian, pemerintah setempat mengklaim telah menyalurkan 708 ribu liter air bersih untuk warga yang mengalami kesulitan air hingga Agustus ini. Dropping air bersih pun masih terus dilakukan hingga awal musim penghujan mendatang di Desa Sayutan dan Desa Trosono, Kecamatan Parang. ‘’Tapi, dropping air ini bukan solusi. Kami tidak bisa seperti ini terus setiap tahun,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Magetan Ari Budi Santosa Senin (19/8).

Diungkapkannya, ada solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih di masa akan datang. Seperti pembangunan sumur bor. Untuk itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPBD Jatim. ‘’Kamis sudah survei ke sana. Ada sebuah sumber yang tidak terawat. Kami akan coba hidupkan kembali sumber tersebut,’’ ungkapnya.

Opsi lainnya adalah bergantung pada usaha Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Karena mereka juga berencana melakukan pengeboran sumber air bersih di Desa Sayutan. Hasil dari pengeboran, air disalurkan ke beberapa tandon milik masyarakat. ‘’Program itu hanya untuk warga di RT 19 Desa Sayutan. Karena beberapa RT lainnya sudah ter-cover oleh program Pamsimas. Selain itu, letak geografis tiap RT juga berbeda-beda,’’ terang Ari.

Soal rencana pembuatan sumur bor itu, Ari meminta pihak pemerintah desa (pemdes) untuk segera mengirimkan proposal ke tempatnya. Sebelum kemudian diajukan ke provinsi. Syarat itu juga berlaku bagi Pemdes Trosono. ‘’Tapi, semuanya masih perlu kajian lagi,’’ ujarnya.

Kasus berbeda terjadi di Kecamatan Karas. Ari menyebutkan dua desa terdampak kekeringan di wilayah tersebut, yaitu Desa Kuwon dan Karas yang sampai saat ini belum mengajukan permohonan distribusi air bersih. Sekalipun pihaknya pernah menerima laporan bahwa sumber air di dua desa tersebut sudah makin menyusut. ‘’Selama belum ada laporan tertulis dari pemdes setempat, kami tidak bisa melakukan distribusi air bersih,’’ tuturnya.

Untuk mengatasi krisis air bersih di dua desa tersebut selama musim kemarau, pihaknya sudah menyampaikan beberapa opsi. Seperti pemasangan pipanisasi air ke beberapa rumah warga di Dusun Sumbermeneng, Desa Kuwon. Sedangkan, untuk Dusun Jangglengan, Desa Karas, diberikan bantuan sumur dalam. ‘’Dua-duanya adalah bantuan dari BPBD Jatim. Tahun ini semua dikerjakan,’’ jelas Ari. (fat/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here