DPT Bengkak karena Santri

102

Bagi partisipan pemilu, kantong suara dari kalangan bersarung tidak pernah dipandang remeh. Senyatanya di Ponorogo dan Ngawi, angka calon pemilih yang pindah pilih karena mengenyam pendidikan di pondok pesantren (ponpes) tidak sedikit. Dua kabupaten tersebut dijejali ponpes dan santri yang begitu banyak jumlahnya. Suara mereka jelas dilirik.

——————————————

PONDOK Modern Darussalam Gontor Ponorogo sering dikunjungi petinggi negara. Juga, tokoh-tokoh kenamaan. Di antara mereka, sudah barang tentu ada yang memiliki kepentingan politik. Calon presiden (capres) nomor urut dua Prabowo Subianto tahun lalu sempat berkunjung ke ponpes di Kecamatan Mlarak itu. Sowan kepada para kiai setempat. Langkah yang sama pernah dilakukan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang juga capres nomor urut satu.

Faktanya, Gontor memang menyumbang calon pemilih dalam jumlah besar. Komisi pemilihan umum (KPU) setempat mendata ada 924 pemilih yang masuk dalam daftar pemilih tambahan alias DPTb di Mlarak. Pun dari beberapa ponpes lain. Bahkan, KPU menyediakan lima tempat pemungutan suara (TPS) baru berbasis DPTb di Mlarak. ‘’Mlarak termasuk penyumbang DPTb terbesar karena ponpes,’’ kata Komisioner Divisi Data KPU Ponorogo Munajat.

Selain Gontor, beberapa desa/kelurahan di kecamatan lain juga meningkat jumlah pemilihnya berkat keberadaan ponpes. Meliputi Siman (819), Ponorogo (206), dan Babadan (202). Pun, lanjut Munajat, angka tersebut berpontensi terus bertambah lantaran pendaftaran pindah pilih masih dibuka hingga pertengahan bulan ini. ‘’Pindah pilih berdasarkan formulir A-5 masih dibuka sampai H-30 pemilu. Jadi bukan tidak mungkin bertambah,’’ sebutnya.

Jumlah DPTb yang begitu banyak itu sempat disangsikan badan pengawas pemilu (bawaslu). Mereka menyebut pendataan yang dilakukan mendapati data yang lebih besar dari angka DPTb KPU. Kata dia, ada sekitar 3.000 calon pemilih potensial di Mlarak berkat keberadaan ponpes di Gontor. ‘’Hasil koordinasi kami dengan ponpes, di Mlarak saja ada sampai 3.000. Belum termasuk kecamatan lain yang juga ada ponpesnya. Kami berharap KPU bisa lebih mencermati lagi data ini,’’ beber Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Ponorogo Juwaini.

Pondok Modern Darussalam Gontor juga berdiri di Ngawi. Jumlah santrinya bahkan diklaim sama besar dengan dua ponpes Gontor di Bumi Reyog. Ketua KPU Ngawi Syamsul Wathoni mengungkapkan, ada 3.618 pemilih baru yang terdata di DPTb setempat. Di dua lokasi, Pondok Modern Darussalam Gontor di Ngawi menyumbang sebagian besar dari DPTb. ‘’Pemilih tambahan di Ngawi terkonsentrasi di satu titik (ponpes). Sisanya menyebar,’’ jelas Syamsul.

Lantas, seberapa ‘’mahalkah’’ suara dari kalangan santri? Bambang Widiyahseno, pengamat politik lokal di Ponorogo menilai pemilih dari kalangan santri merupakan basis suara yang besar secara nasional. Ponpes, kata dia, merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis agama yang tergolong tua di negeri ini. Mereka berhimpun dan memiliki satu preferensi politik tersendiri.

‘’Afiliasi politik ponpes berbeda satu dengan yang lain. Dan yang jelas, loyalitas pemilih dari kalangan santri ini terbilang tinggi. Satu komando, mereka semua bergerak memenangkan,’’ jelas wakil rektor Universita Muhammdiyah (Unmuh) Ponorogo itu.

Tak heran, DPTb dari kalangan santri acap menimbulkan perdebatan. Terutama, urusan angka pemilih tambahan dari ponpes-ponpes itu. Semakin besar angka DPTb, kata Bambang, menunjukkan semakin besar pula kantong suara potensial yang bisa digarap. ‘’Jadi, tidak heran basis suara ini digarap khusus, terutama oleh paslon pilpres,’’ tukasnya. (naz/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here