DPRD Bertekad Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

15

MAGETAN – Jalan hidup seseorang memang tidak pernah ada yang tahu. Hidup ditengah kekurangan tidak membuat Sujito terpuruk. Dia berhasil bangkit dan memutus rantai kemiskinan. Dari tidak ada biaya sekolah, kini berhasil menduduki kursi DPRD Magetan sebagai anggota legislatif.

JIKA kalian melintas di ruas jalan daerah Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan dan Trenggalek pasti ada gambar Sujito di bahu jalan. Semua itu bagian dari sosialisasi yang dilakukan oleh Sujito ketika diberi mandat oleh Partai Keadilan Sosial (PKS) macung sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Jatim dari daerah pemilihan (dapil) IX.

Saat ini, Sujito merupakan anggota DPRD Magetan aktif periode 2014–2019. Sekaligus seorang pengusaha obat herbal. Dulunya sebelum terjun menjadi anggota dewan, pria kelahiran 6 Juli 1978 itu hanya orang desa biasa. Hidup serba keterbatasan. Karena memang dia bukan berasal dari keluarga mampu.

Sujito lahir di Desa Klangon, Saradan, Kabupaten Madiun. Sejak kecil, Sujito sudah diajari oleh kedua orang tuanya hidup mandiri. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) misalnya. Supaya bisa memenuhi kebutuhan sekolah dia menjadi cah angon. Hewan yang diangon adalah sapi milik tetangga. ‘’Bisa sekolah saja itu sudah luar biasa. Karena memang orang tua tidak mampu membiayai saya sekolah. Jadi, saya mau tidak mau harus cari uang sendiri,’’ ungkap bapak tiga anak itu.

Kehidupan seperti itu dijalaninya sampai tamat SD hingga lanjut ke Madrasah Tsanawiyah (MTs). Selama berstatus sebagai siswa menengah pertama ada sejumlah hal menarik yang pernah dialami oleh Sujito. Misalnya, untuk pergi ke sekolah dia harus rela jalan kaki sejauh belasan kilometer. Selain itu, kehidupan anak SMP sederajat pada zamannya berbeda dengan saat ini.

Seperti beberapa di antara mereka memilih langsung menikah daripada harus sekolah. Karena memang tidak mempunyai biaya untuk menempuh pendidikan. Tapi, Sujito saat itu mengaku tidak ingin terjebak dalam permasalahan sosial tersebut. Meskipun kondisi ekonomi keluarganya tak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. ‘’Karena itu, setamat dari MTs saya memutuskan lanjut sekolah keluar desa. Dengan harapan bisa meningkatkan ekonomi keluarga,’’ terang suami Anik Istadiana itu.

Daerah tujuannya adalah Kota Madiun. Dia bersekolah di STM Cokroaminoto dengan mengambil jurusan kompetensi mesin. Tapi, itu tak lama dijalani oleh Sujito. Hingga kemudian dia memutuskan pindah jurusan peternakan. Selama duduk dibangku menengah kejuruan, Sujito juga nyambi kerja di tempat penyembelihan ayam. Hasil yang didapat dari situ dipakainya untuk mencukupi biaya sekolah. ‘’Setamat dari bangku SMK, saya melanjutkan kuliah ke IKIP PGRI Madiun (saat ini Unipma) dengan mengambil program pendidikan (prodi) Bahasa Inggris,’’ katanya.

Dia kuliah bermodal beasiswa. Sehingga tak perlu keluar banyak uang. Namun, Sujito tidak mau hidup berpangku tangan. Dia tetap berusaha kerja. Setidaknya untuk mencukupi kebutuhannya saat kuliah. ‘’Kerjanya pindah-pindah. Dari sebelumnya ikut berjualan soto mantan guru sekolah saya, lalu berjualan tahu di Pasar Legi Ponorogo,’’ jelasnya.

Tidak hanya itu, Sujito juga pernah mencicipi pekerjaan sebagai loper koran, penjaga counter wartel dan berjualan buku. Bahkan, bekerja sebagai guru honorer pernah dilakoni Sujito setelah lulus kuliah. Sebelum kemudian berbisnis usaha obat herbal.

Berkat pengalaman hidupnya itulah, Sujito tahu seluk beluk bagaimana memperjuangkan nasib wong cilik. Seperti membantu menyalurkan aspirasi mereka melalui berbagai program pokok pikiran (pokir) DPRD. ‘’Setelah dipercaya menjadi anggota DPRD Magetan periode 2014–2019. Sekarang saya ingin berusaha melanjutkan perjuangan,’’ tandasnya. (*/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here