Donor Darah Seratus Kali, Suyanto Dapat Penghargaan dari Presiden Jokowi

116

Di masa sulit sehat sekarang ini, hobi donor darah yang biasa dilakoni Suyanto terasa sangat berarti. Tiga bulan sekali, dia selalu mendonorkan darahnya ke Palang Merah Indonesia (PMI) Ponorogo sejak 1986 silam. Tahun ini, genap 100 kali dirinya andil dalam kegiatan sosial tersebut. Kesetiaannya diapresiasi Presiden Joko Widodo.

——————-

DI TENGAH mewabahnya DBD hingga merenggut delapan warga daerah setempat, kantor PMI merupakan tempat paling vital. Sebab, di situlah persediaan darah tersedia. Pun tempat memproduksi trombosit yang disalurkan kepada penderita DBD. Mesin trombosit bekerja tanpa suara saat darah dari pendonor diolah. Cairan yang semula merah dipisahkan hingga membentuk cairan berwarna kuning. Cairan itulah yang biasa digunakan untuk meningkatkan trombosit penderita DBD.

Trombosit tanpa peran pendonor tidak berarti apa-apa. Karena itu, stok trombosit berpengaruh terhadap ketersediaan darah. Saat perbincangan bersama seorang dokter, terselip nama Suyanto. Nama itu disebut bukan tanpa alasan. Sebab, dia baru saja mendapatkan penghargaan dari Presiden Joko Widodo, Sabtu lalu (26/1). Begitulah awal mula pertemuan dengan pahlawan kemanusiaan yang konsisten mendonorkan darahnya sejak 33 tahun silam. ‘’Sudah mendonor sejak usia 21 tahun,’’ kata Suyanto.

Konsistensi Suyanto menyumbangkan darahnya patut diacungi jempol. Tidak ada alasan lain kecuali hanya ingin berbagi kepada sesama. Tiap tiga bulan sekali dia rutin datang ke kantor PMI. Kecuali, ketika kondisi tubuhnya tidak memenuhi syarat sebagai pendonor. Misalnya, baru dirawat di rumah sakit. Paling tidak dia harus menunggu tiga bulan pasca-rawat inap untuk dapat mendonorkan darahnya. ‘’Tiap donor diperiksa kondisi tubuhnya, termasuk tensi dan HB. Jadi, harus sesuai dengan kriteria,’’ ujar pria kelahiran 1965 itu.

Konsistensi Suyanto membuatnya terbiasa sebagian darahnya diambil. Bahkan, ketika jadwalnya donor tiba tapi dia berhalangan karena tubuhnya belum memenuhi syarat, dia merasakan tubuhnya lemas. ‘’Berat kalau sampai harus menunda jadwal donor,’’ ungkap pria 53 tahun itu.

Di istana negara belum lama ini, dia diundang bersama 843 pendonor dari seluruh tanah air. Penghargaan dari orang nomor satu di republik ini sangat berarti. ‘’Bangga dan terharu karena misi kemanusiaan ini benar-benar diperhatikan negara,’’ ucap istri Wiji Astuti itu.

Setelah keseratus kali mendonorkan darahnya, bukan berarti Suyanto berhenti. Sebab, bukan target itulah yang dia kejar. Dia ingin terus berbagi, terutama di masa mewabah DBD ini. Dia juga mengajak keluarga, kerabat, teman kerja, dan orang-orang di sekelilingnya untuk besama-sama mendonorkan darahnya. Jangan sampai semakin banyak nyawa melayang akibat nyamuk yang saat ini mejadi pembunuh nomor satu di Bumi Reyog itu. Apalagi permintaan trombosit dari hari ke hari semakin meningkat. ‘’Mari bahu-membahu memberantas DBD yang semakin mewabah ini,’’ tegasnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here