DLH Ungkap Borok DMFI, Tiga Tahun Tidak Laporkan Produksi

294

KOTA – Borok PT Dragon Fly Mineral Industry (DMFI) di Desa Pagutan, Arjosari, Pacitan, makin menganga. Itu setelah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan membeber perusahaan pengolah timah itu mokong dalam pelaporan produksinya. Bahkan, sudah berlangsung tiga tahun terakhir. ‘’Ada kewajiban pelaporan setiap enam bulan sekali. Tapi belum ada sejak 2016 lalu,’’ kata  Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Pacitan Yoni Kristianto.

Menurut dia, pelaporan itu dibutuhkan sebagai bahan pertimbangan indikasi pencemaran atas kegiatan produksi. Intensitas limbah yang dihasilkan dalam kadar normal atau membahayakan. ‘’Sehingga, kalau ada laporan kami bisa melakukan antisipasi. Jadi semua diuntungkan, karena mereka juga melaksanakan aturan perundang-undangan,’’ tegasnya.

Meski begitu, pelaporan sebenarnya tidak selalu ditujukan ke dinasnya. Bisa jadi ke Dinas Lingkungan Hidup Jatim. Hanya, semestinya pihaknya menerima tembusan. Untuk pemantauan, pihaknya memang pasif. Menurut dia, permasalahan limbah bisa diselesaikan di tingkat pemerintahan terendah. ‘’Jadi, seharusnya bisa diselesaikan di tingkat desa,’’  imbuhnya.

Sayangnya, Yoni belum membeber sanksi kemokongan DMFI tersebut. Namun, keresahan warga Desa Pagutan sebelumnya jadi perhatian khusus. DLH berencana mendatangi DMFI. Selain memeriksa  juga bakal mengambil sampel limbah dan mengujinya di laboratorium. ‘’Kami akan ke DMFI untuk klarifikasi. Minta keterangan pihak pabrik dan masyarakat,’’ janjinya.

Diberitakan sebelumnya, warga Desa Pagutan bergejolak. Pasalnya, limbah DMFI diduga mencemari lingkungan setempat. Limbah produksi mencemari mata air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga. Warga juga khawatir desanya terendam banjir. Pasalnya, keberadaan DMFI mempercepat pengikisan tanah di sepanjang aliran sungai. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here