DLH Magetan Rekrut Ratusan Tenaga Kebersihan

156

MAGETAN – Masalah kebersihan kota menjadi pekerjaan rumah (PR) serius Pemkab Magetan. Untuk mengentaskan persoalan itu, dinas lingkungan hidup (DLH) merekrut tenaga kebersihan dengan sistem kontrak perorangan pada tahun ini. ‘’Ada sekitar 163 tenaga kebersihan yang dikontrak,’’ kata Kepala DLH Magetan Saif Muchlissun kemarin (3/2).

Adapun mereka diberi tugas sebagai penyapu jalan, pengemudi kendaraan roda tiga pengangkut sampah, pengemudi truk sampah, petugas composting, petugas pengamanan TPA Milangasri, dan tenaga administrasi. ‘’Klarifikasi dan negosiasi harga sudah selesai. Mereka dikontrak selama sebelas bulan ke depan,’’ kata Muchlis.

Dia memastikan rekrutmen tenaga kebersihan itu tidak melibatkan pihak ketiga seperti sebelumnya. Alasannya adalah efisiensi. Sehingga, bisa memudahkan dirinya berkoordinasi langsung serta mengetahui apa yang dibutuhkan para tenaga kebersihan itu.

Sebaliknya, menurut Muchlis, jika menggunakan jasa outsourcing, proses koordinasi harus melalui perusahaan penyedia jasa tenaga kebersihan tersebut. Pihaknya juga tidak bisa mengetahui secara langsung kebutuhan para tenaga kebersihan itu di lapangan. ‘’Jadi, lebih efektif jika bisa langsung berhubungan tanpa perantara,’’ ujar mantan kabag humas dan protokol itu.

Muchlis tak menampik mereka tergolong sebagai tenaga kasar. Tapi, tenaga kebersihan yang direkrut itu tetap dibebani target. Semisal tenaga kebersihan yang bertugas mengangkuti sampah ke pikap atau truk. Mereka harus cekatan. Karena mereka dituntut membersihkan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) harus selesai sebelum pukul 06.00.

Begitu juga dengan tenaga kebersihan yang bertugas sebagai penyapu sampah di jalan. Mereka ditarget bisa menyapu berapa kilometer dalam waktu sekian jam. ‘’Kebanyakan bisa menyapu. Tapi, belum tentu bisa menyapu jalan dan fasilitas umum,’’ tuturnya.

Muchlis juga memastikan semua tenaga kebersihan yang direkrut itu seluruhnya merupakan warga Magetan. Mereka dibebani membersihkan sampah di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. ‘’Itu tidak mungkin bisa terakomodasi jika menggunakan (jasa) pihak ketiga,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan kontrak kerja tenaga kebersihan itu tidak permanen. Dengan demikian, belum tentu ada perpanjangan kontrak. Sehingga, ketika kontrak kerja habis, mereka harus mengikuti seleksi kembali seperti semula jika masih ingin menjadi tenaga kebersihan DLH.

Muchlis juga menerapkan aturan tegas. Misalnya, apabila ada tenaga kebersihan yang dianggap kurang maksimal dalam bekerja, bakal di-suspend. ‘’Satu minggu ke depan kami jadikan bahan evaluasi. Kalau bagus, ya lanjut. Kalau tidak, terpaksa akan kami cut,’’ tegasnya. (bel/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here