DLH Investigasi Saluran Irigasi di Sraten, Jenangan

106

PONOROGO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo langsung bereaksi atas tersumbatnya saluran irigasi di Desa Sraten, Jenangan, Ponorogo. Sejumlah tim diturunkan untuk mengecek asal muasal lumpur yang mengendap di saluran irigasi. Terlebih masalah tersebut mengancam ratusan hektare lahan persawahan di empat desa. ‘’Kami turunkan tim untuk langsung kroscek ke lapangan,’’ kata Kepala DLH Ponorogo Sapto Djatmiko.

Sejauh ini Sapto belum dapat menarik kesimpulan. Apakah endapan lumpur berasal dari pencucian pasir di Desa Semanding atau lainnya. Tim investigasi masih menginventarisasi jumlah tambang dan pencucian pasir. ‘’Hari ini (kemarin, Red) kami juga lakukan inventarisasi,’’ ujarnya.

Sapto membenarkan di Desa Semanding, Jenangan, terdapat dua tambang dan pencucian pasir. Desa tersebut bersebelahan langsung dengan Desa Sraten, Jenangan. Kendati demikian, pihaknya tidak ingin gegabah menuding endapan lumpur bersumber dari dua tambang dan pencucian pasir tersebut. ‘’Kami kaji dulu, dan buka dokumen terkait keberadaan tambang dan pencucian pasir tersebut,’’ terangnya.

Pihaknya berjanji bakal terus melakukan kajian terhadap keberadaan tambang dan pencucian pasir tersebut. Terutama pengelolaan limbah hasil pembuangan pencucian pasir. ‘’Kami akan sampaikan bagaimana hasilnya. Tentunya jika menyalahi, kami akan menerbitkan surat,’’ sambung Sapto.

Selama ini, dua tambang dan pencucian pasir tersebut sudah mengantongi dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL). Dalam dokumen tersebut, pihak pengelola telah menyediakan kantong-kantong pembuangan limbah. ‘’Itu kalau kita buka kembali dokumen UKL-UPL,’’ katanya.

Kantong tersebut juga bakal dibersihkan dua bulan sekali. Pun tidak membuang limbah ke saluran irigasi. Kesesuaian pengelolaan limbah di dokumen dan praktiknya itulah yang akan menjadi fokus kajiannya. ‘’Itu yang akan kami telusuri, dan saat ini kami belum dapat menyimpulkan,’’ ujarnya.

Terkait izin, Sapto menegaskan bukan menjadi kewenangan DLH. Hanya saja, dalam pengurusan izin diperlukan dokumen UKL-UPL. ‘’Kami hanya merekomendasikan pemenuhan proses pengolahan limbahnya,’’ tuturnya.

Penyuluh Pertanian Desa Sraten, Jenangan, Agus Sairi, mengatakan bahwa limbah lumpur mengganggu pertumbuhan tanaman pertanian. Hal itu disebabkan masuknya limbah ke areal persawahan. ‘’Sehingga pori-pori tanah tertutupi. Karena memang unsur limbah tersebut berbeda dengan tanah gembur,’’ kata Agus.

Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat. Tanah yang semula gembur, kata dia, berubah menjadi padat dan lengket. Baginya, hal itu menjadi pertimbangan untuk terus mengurai permasalahan tersebut. ‘’Karena ada banyak petani yang akan terdampak. Kami tidak mempermasalahkan tambang dan pencucian pasir. Tapi, lumpur yang ada di saluran irigasi ini dari mana sumbernya,’’ ucapnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here