Diumbar Pemkab, Kios PPU Jadi Tempat Tinggal

971

MAGETAN – Fungsi Pasar Produk Unggulan (PPU) Maospati makin salah kaprah. Tak hanya menjadi praktik prostitusi terselubung. Tetapi, kios PPU juga sudah beralihfungsi sebagai tempat tinggal.

Seperti yang dilakukan Rosa (bukan nama asli) misalnya. Dia mengaku sudah setahun terakhir ini menempati kios sisi selatan PPU sebagai tempat tinggal keluarganya. ‘’Setiap hari tinggal disini. Karena ini rumahnya,’’ terangnya.

Di kios berukuran 3×3 meter itu, Rosa menempatkan peralatan rumah tangganya. Seperti kasur dan televisi. Di depan kios, terdapat gantungan baju dan kursi bambu. Mobil mainan anaknya juga tergeletak di emperan kios tersebut.

Ember dan jeriken air, Rosa tempatkan di depan kios pula. Itu untuk mencuci baju dan mencuci peralatan dapur. Terkadang anaknya juga dimandikan di depan kios yang menghadap ke utara tersebut. ‘’Aktivitas sehari-hari seperti biasa. Seperti rumah pada umumnya,’’ katanya.

Rosa mengungkapkan kios yang ditempatinya itu sewa. Harganya Rp 3 juta setahun. Uang itu disetor ke pemilik kios sebelumnya. Meski begitu, dirinya menyadari apabila kios ini merupakan bangunan milik pemkab. Namun, dia berpendapat bahwa pengelolaan PPU tidak seperti pasar lainnya.

Menurutnya, ada pihak lain yang mengelola dan menyewakannya kepada warga. Selain itu, kata dia, selama ini tak pernah ada larangan tegas dari pemkab menempati kios tersebut. ‘’Saya menyewanya dari orang yang dulunya menempati kios ini,’’ tutur Rosa.

Dijelaskan, bukan hanya dirinya yang tinggal di kawasan PPU itu. Ada beberapa keluarga yang juga bermukim di pasar dekat Terminal Maospati tersebut. Rosa juga menunjukkan bahwa di sisi tengah PPU terdapat pula keluarga yang bermukim. Namun, setiap kios harga sewanya berbeda. ‘’Rata-rata sewanya setahun Rp 2 juta – Rp 3 juta,’’ katanya.

Sejatinya, Rosa memiliki rumah. Dia tercatat sebagai warga Desa Tinap, Sukomoro. Namun, setahun belakangan, dia membuka warung kopi di PPU. Warung itu beroperasi saat malam. Saat akhir pekan, bisa beroperasi hingga dini hari.

Sementara, dia mengaku tak kuasa pulang setiap hari ke rumah. Belum lagi dirinya mempunyai anak kecil. ‘’Kan besoknya jualan lagi, ya sudah tinggal disini saja,’’ terangnya.

Lagipula, lanjut dia, suaminya bekerja di pasar hewan yang tak jauh dari PPU. Jika pulang ke PPU, bisa cepat karena dekat. Rosa dan keluarganya mengaku nyaman tinggal disana. Biarpun sangat sempit untuk ditempati bertiga. Tetapi suasananya nyaman. ‘’Kalau malam ramai sekali,’’ kata Rosa. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here