Dita Ningtyas Rasakan Kram Perut usai Berkeliling TPS

30

NGAWI – Kejadian itu sudah satu minggu berlalu. Namun, kesedihan Dita Ningtyas dan Riko Sulistyo Saputra suaminya masih belum hilang sepenuhnya. Kesedihan itu tertangkap dari sikap Dita yang selalu menundukkan kepalanya setiap mengingat peristiwa yang terjadi pada 17 April lalu. Kala itu dia mengalami keguguran saat melaksanakan tugasnya sebagai panitia pemungutan suara (PPS) di desanya.

Dita mengatakan, awalnya, saat pemungutan suara itu semuanya berjalan normal. Tidak ada tanda apa-apa yang dialami. Mulai pagi sampai siang dia juga sibuk berkeliling desa untuk memastikan proses coblosan di semua TPS berlangsung lancar. ‘’Masih biasa, belum merasakan apa-apa,’’ ujarnya.

Menjelang sore, sekitar pukul 14.30, Dita merasakan perutnya kram. Saat itu juga dia meminta izin kepada ketua PPS-nya untuk pulang. Setelah sampai rumah ternyata Dita mengalami pendarahan. ‘’Oleh Ibu saya langsung dibawa ke bidan desa, lalu dirujuk ke rumah sakit,’’ kenangnya.

Di tengah rasa sedih bercampur kebingungan, Dita berusaha menghubungi suaminya, namun tidak bisa. Sebab, saat itu sang suami juga sedang melaksanakan tugasnya sebagai anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di desa lain. Apalagi, pada jam tersebut masih sibuk-sibuknya KPPS melakukan penghitungan perolehan suara. ‘’Akhirnya diantar bapak-ibu ke rumah sakit di Madiun,’’ ungkapnya.

Saat dokter menyatakan janin dalam kandungannya sudah tidak bisa diselamatkan, seketika Dita lemas, meski sebelumnya tahu bahwa dirinya bakal mengalami keguguran. Dokter pun menyarankan dilakukan kuret. Akhirnya keesokan harinya ditemani suami, Dita melakukan operasi kuret di salah satu rumah sakit di Kota Madiun. ‘’Kalau sedih pasti, tapi memang mungkin belum rezeki kami,’’ ucapnya.

Saat keguguran itu usia janin yang dikandung Dita sudah sekitar 11 minggu menginjak tiga bulan. Pun, merupakan kehamilan pertama setelah menikah dengan Riko pada 1 September 2018 lalu. ‘’Saat awal hamil dulu sebenarnya sudah disarankan dokter untuk bed rest,’’ ujarnya.

Namun karena merasa masih mampu, Dita tetap menjalankan tugasnya sebagai petugas penyelenggara pemilu. ‘’Sudah diingatkan suami sebenarnya. Tapi mau gimana lagi. Saya merasa ini tanggung jawab yang harus saya laksanakan,’’ paparnya.

Setelah kejadian itu, Dita tidak ingin menyalahkan pekerjaannya. Justru jika ada kesempatan lagi Dia ingin kembali menjadi petugas penyelenggara pemilu. Sebelumnya, Dita pernah terlibat pemilihan gubernur 2018. ‘’Kebetulan masa kerja kami sampai Juni nanti. Tapi kalau ada pembentukan (PPS) lagi, saya masih ingin ikut,’’ ungkapnya.

Dita tidak menyesali apa yang terjadi pada dirinya tersebut. Justru yang membuatnya prihatin, banyak isu yang meragukan kinerja para petugas penyelenggara pemilu. Padahal, di matanya, mereka sudah berjuang habis-habisan supaya pelaksanaannya berjalan lancar. (tif/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here