Diovani Sayang, Diovani Malang

104

MADIUN – Kisah perjuangan Diovani Haikal Oktavian akhirnya mendapatkan tanggapan dari pemkot. Pihak Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPA) Kota Madiun mengklaim jika sudah menangani.

Yakni, Diovani yang saat ini tercatat pelajar kelas III SDN Pangongangan 02 telah menerima dua kartu bantuan pemerintah. Yakni, KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan keluarga sudah dibantu dengan program keluarga harapan (PKH). Terkait, beban biaya pengobatan adiknya bisa dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah terkait (OPD). ’’Bantuan melalui KIP dan PKH sudah diberikan,’’ ujar Kepala Bidang Sosial Dinsos PPA Kota Madiun Nur Sahada saat dihubungi Jawa Pos Radar Madiun kemarin (3/4).

Apa yang dilakukan Diovani Haikal Oktavian memang bisa membuat kita mengelus dada. Sudah sebulan terakhir Diovani berjualan gorengan. Ibunya sempat melarang. Namun, bocah yang tinggal di Gang Lodayan, Jalan Merapi, Kelurahan Pangongangan, Kota Madiun itu tetap nekat berjualan. Dia mengaku iba dengan orangtuanya yang terhimpit masalah ekonomi. Apalagi, pasca adiknya dirawat di rumah sakit setelah mengalami patah tulang. Sudarmaji, bapaknya bekerja sebagai tukang becak. Sedangkan, Ani Pujiastuti, ibunya juga berjualan gorengan di rumah. ’’Duitnya bapak-ibu habis banyak untuk obati adik, saya nyaman berjualan,’’ ujar polos Diovani.

Sementara itu, ada fenomena di Kota Madiun beberapa pekan terakhir di sejumlah titik traffic light. Yakni, sejumlah anak berjualan tisu. Lokasinya di perempatan Te’an, pertigaan Urip Sumoharjo, dan pertigaan jalan Salak. Keberadaan anak-anak itu memang melanggar. Selain membahayakan, perda di Kota Madiun juga mengatur larangan berjualan di kawasan traffic light. ’’Jualannya ramai-ramai 3 sampai 4 orang. Itu tidak boleh, sudah beberapa kali kami tertibkan dan beri pembinaan,’’ ujar Kepala Satpol PP Kota Madiun Sunardi Nurcahyono.

Sunardi mengaku dilema melakukan peneritban anak-anak yang nekat berjualan di bangjo. Sudah dilakukan pembinaan agar tidak berjualan tapi tetap nekat. Setelah ditelisik, kondisi orangtuanya juga sama-sama memprihatinkan dan membutuhkan perhatian. ’’Memang harus ada solusi pemecahannya,’’ ujarnya. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here