Diovani Jualan Gorengan demi Kesembuhan Sang Adik

187

MADIUN – Seragam merah-putih masih melekat di tubuh Diovani Haikal Oktavian saat bocah 10 tahun itu menunggui sang ibu yang sedang sibuk di dapur rumah kontrakannya di Kampung Lodayan, Kelurahan Pangongangan. Siang itu, Ani Pujiastuti ibunya sedang mengolah bermacam gorengan.

Tak lama berselang, Diovani beranjak ke kamar untuk berganti pakaian. Sembari menanti gorengan matang, Diovani menyempatkan waktu membaca buku pelajaran. Beberapa menit kemudian, Ani datang sambil menenteng baki berisi ratusan gorengan yang masih panas.

Diovani lantas menutup buku dan mulai menata gorengan itu ke keranjang. Dia lalu mengambil tas kecil dan mengalungkannya di dada. Kemudian, mencium tangan Ani sembari mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi berjualan.

Tangan kanan membawa keranjang gorengan. Sementara, tangan kirinya menggenggam sekantung kresek berisi cabai rawit. Dia berjalan menyusuri sebuah gang, melewati sejumlah sebayanya yang asyik bermain bola.

Setibanya di sebuah pusat perbelanjaan Jalan Pahlawan, Diovani mulai berkeliling pelataran lantai I menjajajakan dagangannya. ‘’Gorengan..gorengan,’’ kata bocah itu berulang kali untuk menarik minat pembeli. Dua jam kemudian, dia tampak duduk di sudut mal, menghitung lembaran rupiah dari tasnya.

Sudah sebulan terakhir Diovani berjualan gorengan. Itu dilakukan demi membantu orang tua membiayai pengobatan adiknya yang mengalami patah tulang. Maklum, Sudarmaji ayahnya hanya tukang becak dengan penghasilan tidak menentu. Sementara, ibunya berjualan gorengan di rumah. ‘’Bapak ibu habis banyak untuk obati adik,’’ ujarnya polos.

Setiap harinya siswa kelas III SDN Pangongan 3 itu membawa sekitar 100 biji gorengan. Yang dijajakan mulai tahu, tempe, pisang, hingga singkong. ‘’Biasanya jualan dari jam 15.00 sampai 17.00. Kalau sepi sampai jam 20.00 malam,’’ kata Diovani sembari menyebut jika dagangan habis terjual bisa mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp 100 ribu.

Ani ibunya sejatinya melarang Diovani berjualan. Selain tidak tega, dia tidak ingin buah hatinya tersebut kehilangan waktu bermain seperti sebanyanya. Namun,  bocah yang bercita-cita menjadi tentara itu memaksa dengan alasan ingin membantu dirinya. ‘’Mau bagaimana lagi,’’ ucapnya.

Lembaran rupiah yang didapatkan Diovani oleh Ani sebagian ditabung. Pun, dia berharap bisa memiliki gerobak untuk berjualan di sekitar rumahnya. ‘’Biar bisa jualan di pinggir jalan,’’ katanya. (dil/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here