Dinsos Tak Temukan Indikasi Tindakan Eksploitasi pada Diovani

39

MADIUN – Keseharian Diovani Haikal Oktavian berjualan gorengan sudah lama diketahui sejumlah guru di SDN Pangongangan 02. Jawa Pos Radar Madiun kemarin (4/4) sengaja mendatangi sekolah bocah 10 tahun itu. ’’Sudah lama jualannya, Diovani kalau cerita pulang sekolah istirahat dulu terus jualan, memang kadang ya sore dan malam,’’ ujar guru kelas Diovani yang meminta namanya tidak ditulis.

Dia mengaku bangga memiliki murid yang pekerja keras dan membantu orang tua berdagang. Di kelas Diovani juga sama seperti siswa pada umumnya. Tapi nilainya kurang. Beberapa bulan ini sejumlah guru memutuskan membuka tambahan pelajaran khusus untuk anak-anak yang kurang dalam pembelajaran. ’’Termasuk Diovani itu, seminggu dua kali selama satu jam. Hasilnya, lumayan untuk meningkatkan nilainya,’’ paparnya.

Bukan hanya itu, Diovani cukup lamban dalam menulis. Itu terlihat ketika dilaksanakan ulangan harian. Ketika guru mengeja dan meminta siswa untuk menulis ejaan tersebut, Diovani kerap tertinggal dari teman-temannya. Sehingga tak jarang selesai belakangan. Dengan kondisi itulah yang membuatnya merasa khawatir dengan anak didiknya itu. ’’Sekarang karena tahu dia harus bagi waktu dengan berdagang, sebisa mungkin tugas-tugas sekolah saya dampingi dikerjakan di sekolah, juga sering mengingatkan untuk jangan lupa tugas sekolah dikerjakan,’’ ungkapnya.

Sementara itu, pemkot melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Dinsos PPA) Kamis siang kemarin mendatangi rumah Diovani di Jalan Merapi, Gang Lodayan, Pangongangan. Mereka adalah Fepi Aryani, supervisor program keluarga harapan (PKH) didampingi Al Rosiah dari satuan bhakti pekerja sosial perlindungan anak (sakti peksos). Terungkap, kata dia, bantuan PKH didapat sejak tahun 2017. Sedangkan, tahun 2019 dua kali menerima bantuan komponen, masing-masing Rp 450 ribu bulan Januari dan Maret. Serta satu kali bantuan tetap sebesar Rp 550 ribu di awal Januari. ’’Saya cek sudah menerima,’’ ujarnya.

Sementara, Al Rosiah kemarin berusaha mendeteksi apakah terjadi tindakan eksploitasi terhadap anak tersebut. Dugaan itu bisa ditepi, lantaran memang Diovani yang memaksa ingin berjualan. Dan terlihat enjoy ketika berdagang.  ’’Jadi saya merespon kasus yang sudah viral ini, mengetahui pola asuh orang tua, mengindentifikasi persoalannya,’’ paparnya.

Sementara itu, Ani Pujiastuti, ibu Diovani mengatakan, anaknya melontarkan niatan ingin berjualan beberapa bulan lalu. Ini lantaran merasa kasihan kondisi keuangan keluarga. Sudarmaji, bapaknya kesehariannya menjadi tukang becek. Sedangkan dirinya juga berjualan gorengan.  ’’Sebelum berjualan di teras mal itu jualannya di sekitar rumah. Kalau jualan di mal itu sekalian bapaknya bisa mengawasi, kan mangkalnya di sana,’’ ujarnya. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here