Dinkes Berharap Teror DBD Terpungkasi Februari

109

PONOROGO – Wabah demam berdarah dengue (DBD) di Bumi Reyog kian menjadi. Sejak ditetapkan kejadian luar biasa (KLB), jumlah penderitanya terus meningkat. RSUD Dr Harjono sampai kewalahan menampung ledakan jumlah pasien tersebut. Bahkan, 90 persen yang dirawat di rumah sakit pelat merah itu merupakan pasien DBD.

Banyak yang menjalani perawatan di unit gawat darurat (UGD). Saking banyaknya, sejumlah pasien terpaksa dirawat menggunakan kursi roda. Kondisi itu jelas membuat semakin resah. Delapan nyawa penderita yang terenggut nyamuk Aedes aegypti sepanjang Januari, jangan bertambah lagi.

Sorotan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur, wabah DBD di awal tahun ini terbilang tinggi. Kiranya, Ponorogo menempati urutan kedua sebagai wilayah dengan penderita meninggal dunia terbanyak. Setelah Kabupaten Kediri yang sejauh ini telah kehilangan nyawa 12 penderita. Meski statistik ini cukup ’’mengejutkan’’ secara nasional, pemprov belum menetapkan KLB untuk wilayah Jatim. Sejauh ini, baru Ponorogo satu-satunya daerah di Jatim yang telah menetapkan KLB. ‘’Kebijakan penetepan KLB ada di pemerintah daerah masing-masing. Tentunya ada pertimbangan khusus terkait penetapan itu,’’ kata Kepala Dinkes Jatim dr Kohar Hari Santoso saat dihubungi Jawa Pos Radar Madiun kemarin (30/1).

Di Kediri, lanjut Kohar, sudah 12 penderita melayang akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Sementara di Ponorogo, laporan yang masuk ke lembaganya baru tiga penderita meninggal dunia. Selisih lima nyawa dari fakta sebenarnya di lapangan. Kohar enggan berkomentar terkait perbedaan data antara rumah sakit dengan dinas kesehatan setempat. Dia beralih menyoroti beberapa penyebab mewabahnya DBD. ‘’Ada tiga faktor. Yaitu, host, agent, dan environment,’’ sebutnya.

Host merupakan faktor dari penderitanya. Misalnya, umur, jenis kelamin, ras, genetik, pekerjaan, nutrisi, status kekebalan, adat istiadat, gaya hidup, dan psikis. ‘’Itu memengaruhi timbul dan menyebarnya penyakit,’’ ujarnya.

Agent merupakan unsur pendukung atau penambah dalam proses terjadinya penyakit. Berkaitan dengan sebab-akibatnya. Sementara environment merupakan faktor lingkungan. ‘’Lingkungan ini pun masih terbagi tiga. Yaitu, fisik, biologis, dan sosial,’’ paparnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo drg Yayuk Kusdarini mengatakan, pihaknya memang baru menerima laporan tiga warga yang meninggal karena DBD. Hal paling urgen yang perlu disikapi saat ini adalah mencegah wabah tak semakin parah. ‘’PSN serentak yang paling efektif dan itu tidak bisa dilakukan oleh dinkes saja,’’ kata Irin, sapaan drg Yayuk Kusdarini.

Terkait anggaran pencegahan, 2018 lalu pihaknya telah menggelontorkan hingga 200-an juta. Dialokasikan untuk fogging, sosialisasi, dan pengadaan obat abate. ‘’Abate bisa didapatkan di puskesmas secara gratis,’’ terangnya.

Kendati anggaran yang dipersiapkan minim, anggaran penetapan KLB bisa diambilkan dari dana tak terduga. Seiring telah ditetapkannya KLB DBD. Termasuk meng-cover pembiayaan pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit, baik negeri maupun swasta.

Irin berharap, teror DBD tak berkepanjangan. Bulan depan, sebaran kasusnya dapat segera ditekan. Dengan begitu, tak ada lagi korban yang berjatuhan. Pihaknya juga meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) turut serta dalam PSN serentak. ‘’Partisipasi warga mulai meningkat. Jadi kami harapkan ke depan PSN ini dapat berjalan efektif,’’ ucapnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here