Dindik Tak Kunjung Regrouping SDN 1-2 Ngasinan

78

PONOROGO – Keseriusan dinas pendidikan (dindik) me-regrouping SDN 1-2 Ngasinan dipertanyakan. Sampai kini rencana penggabungan dua sekolah di Kecamatan Jetis itu urung terlaksana.

Kedua sekolah yang sejatinya sudah legawa itu akhirnya gundah gulana. Apalagi, SDN 2 Ngasinan sudah mendapat larangan menerima siswa baru saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) lalu. ‘’Ini menimbulkan dampak psikologis yang tidak baik bagi siswa,’’ kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Ponorogo Ubahil Islam.

Ubahil yang ikut gerah dengan lambannya realisasi regrouping itu kemarin (2/10) mengajak serta sejumlah anggota komisinya sidak ke sana. Kelambanan eksekusi ini, tegas Ubahil, mustahil terjadi bila dindik mempunyai rencana matang sebelumnya. Tentunya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum ambil kebijakan. Masa depan guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) di dua sekolah terkait tak boleh diabaikan. ‘’Persoalan ini seharusnya tidak terjadi. Secepatnya kami panggil dindik,’’ janjinya.

Budi Purnomo, anggota Komisi D DPRD Ponorogo lainnya, menyarankan dindik membuat perencanaan lima tahun ke depan terkait prediksi pertumbuhan anak di Desa Ngasinan. Agar, ketiga masa pembelajaran memasuki tahun ketiga, rasio jumlah siswa dan guru dapat terpetakan. ‘’Karena saat ini jumlah guru dengan siswanya tidak seimbang. Dipengaruhi program keluarga berencana (KB),’’ jelas legislator asal Partai Nasdem itu.

Kepala SDN 2 Ngasinan Eko Setihardjono tak bisa lagi menyembunyikan keresahannya. Atas ketidakpastian kebijakan penggabungan yang telanjur dicetuskan dindik. Pihaknya mematuhi larangan tidak membuka pendaftaran. Meski saat PPDB lalu, ada tujuh calon siswa baru ketuk pintu. ‘’Saya mohon segera diperjelas,’’ pintanya.

Kepala SDN 1 Ngasinan Suparyono mendukung penuh kebijakan regrouping. Itu menjawab pandangan masyarakat yang selama ini menganggap dua sekolah terkait tidak harmonis. ‘’Itu membuat warga enggan menyekolahkan anaknya ke sini dan lebih memilih sekolah di luar desa,’’ ujarnya sembari memastikan tak lagi menerima GTT-PTT mulai tahun ajaran baru ini.

Saat ini jumlah siswa di SDN 2 Ngasinan tinggal 58 anak. Mereka tersebar mulai kelas II–VI. Kelas I sengaja dikosongkan karena sekolah ini dimoratorium dindik. Jumlah gurunya 10 orang. Terdiri empat guru PNS dan enam GTT. Sementara di SDN 1 Ngasinan, jumlah siswanya 60 anak. Dengan 12 pengajar dari enam PNS dan enam GTT. (her/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here