Dinda Karina Yohanny sejak SMA Rajin Bikin Karya Hand Lettering

75

Hobi menggambar sejak SD membuat Dinda Karina Yohanny tidak mengalami kesulitan berarti saat mempelajari hand lettering. Pun, dari seni menulis indah itu dia mampu mendapatkan tambahan uang saku.

——————

DENGAN pelan Dinda Karina Yohanny mencelupkan kuas ke cat air warna biru laut. Lalu, disapukan ke kertas jenis reeves hingga membentuk motif bunga mawar. Setelah itu, tangannya menari-nari menuliskan kata Happy Wedding dengan font cantik menggunakan spidol hitam khusus untuk hand lettering.

Beberapa menit kemudian setelah tinta kering, kertas itu dimasukkan ke pigura. Tahap finishing, dia menambahkan kartu ucapan dengan pita. ‘’Setiap customer, walaupun hiasan hampir sama, tapi tata letak dan warna saya bedakan biar kesannya eksklusif,’’ ujarnya.

Karina berkreasi dengan hand lettering sejak SMP. Namun, mulai mengomersialkannya sebagai barang kado saat duduk di bangku SMA. Kebetulan, kala itu seni menulis indah sedang booming. ‘’Untungnya sejak SD suka menggambar, jadi nggak terlalu sulit mempelajarinya,’’ kata gadis 19 tahun itu.

Meski begitu, seni hand lettering membutuhkan ketelitian tersendiri. Sebab, langsung digoreskan ke kertas menggunakan spidol. Tidak dipola dulu dengan pensil.  ‘’Jadi, harus memperkirakan posisi dengan tepat. Salah atau kecoret sedikit saja, harus mengulang dari awal,’’ bebernya.

Saat memasarkan produk pertamanya, Karina sengaja meng-endorse seorang teman sekolah yang memiliki cukup banyak follower di Instagram (IG). Cara itu terbukti efektif. ‘’Dapat orderan pertama dari Madiun, minta dibuatkan hand lettering untuk kado ulang tahun,’’ sebutnya.

Seiring berjalannya waktu, hand lettering kreasinya laris diburu untuk kado ulang tahun maupun wisuda. Konsumennya berasal dari berbagai daerah di Madiun Raya hingga Surabaya. ‘’Kalau terlalu jauh terpaksa saya tolak, takut barangnya rusak,’’ ujar Karina.

Pesanan ramai dirasakan Karina sejak kelas XII SMA.  Kala itu, bungsu tiga bersaudara ini bisa mengantongi duit sampai Rp 500.000 per bulan. Sebagian pemasukan itu sengaja disisihkan untuk membeli kertas dan peralatan. ‘’Spidol harus yang kualitasnya bagus. Harganya Rp 65.000 sampai Rp 80.000,’’ sebutnya.

Karya hand lettering Karina dibanderol sesuai ukuran. Termurah Rp 30 ribu dan paling mahal Rp 120 ribu. Saat ini mahasiswi semester II UNS itu sedang menyiapkan inovasi baru yakni mengolaborasikan hand lettering dan desain digital. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here