Madiun

Dijual di Pinggir Jalan, Kambing Kurban Stres

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Teliti sebelum membeli. Terutama hewan kurban. Khususnya kambing. Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun menemukan sejumlah hewan tidak sehat saat inspeksi mendadak (sidak) pedagang hewan kurban di lima lokasi Senin (5/8). Selain penyakit mata, juga stres akibat berada di tepi jalan. ‘’Yang sakit mata hanya satu ekor. Sedangkan yang stres lumayan banyak,‘’ kata Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Disperta Kabupaten Madiun Bagus Sri Yulianta.

Bagus menyatakan, kambing stres dapat diketahui lewat gerakan yang memberontak. Hewan tidak sehat itu ditemukan hampir di seluruh lokasi sidak. Di antaranya Kelurahan Pandean, Mejayan; Desa Ngadirejo, Wonoasri; dan Desa Dimong, Madiun. ‘’Sasaran sidak adalah pedagang hewan kurban bukan di permukiman. Karena rentan terhadap kesehatan,’’ ujarnya.

Ketika memeriksa kondisi 16 kambing yang dijual di Desa Dimong, misalnya. Petugas harus minta bantuan Samirin, pedagangnya, untuk memegang tubuh kambing. Dia kesulitan mengecek kondisi mata, telinga, mulut, dan saluran kemih. Lokasi berjualan Samirin berjarak empat meter dari tepi Jalan Raya Dimong. Kendaraan lalu-lalang melintasi jalan alternatif penghubung Kota Madiun–Kabupaten Madiun itu setiap menitnya. ‘’Total ada sekitar 11 pedagang kambing di tepi jalan,’’ sebutnya.

Menurut Bagus, kambing stres karena kesulitan beradaptasi. Susah menyesuaikan tempat tinggal yang bising kendaraan dari sebelumnya tenang. Kondisi tersebut bisa berbuntut panjang. Yakni, tidak mau makan yang berujung kematian. Di sisi lain, kambing rentan diserang penyakit mata karena terdampak debu. Risiko lainnya, penyakit menular ke kambing lainnya. ‘’Bahaya kalau sampai dijual ke warga,’’ tuturnya seraya menyebut nihil penyakit skabies atau gudik, salah satu indikator kambing sehat.

Meski berisiko, bidang peternakan disperta tidak bisa melarang pedagang. Organisasi perangkat daerah (OPD) itu hanya mengimbau agar memperhatikan kondisi kambing. Salah satunya masa adaptasi dua hingga tiga hari. Bila lebih dari itu masih menunjukkan perangai stres, kambing tidak boleh dijual. ‘’Harus ditarik,’’ tegasnya seraya menyebut idealnya lokasi berjualan 10 meter dari tepi jalan.

Untuk lokasi lainnya, Bagus menyebut pihaknya telah mengirimkan surat edaran ke camat untuk memantau transaksi jual beli hewan kurban. Juga mengerahkan petugas dan penyuluh di desa dan kelurahan. Tidak hanya kambing, tapi juga sapi. ‘’Sampai nanti hari raya Idul Adha, kami terus mengawasi hewan dan daging kurban itu aman, sehat, dan halal untuk dikonsumsi warga,’’ ucapnya.

Sementara Saimin, salah seorang pedagang, mengklaim seluruh kambing yang dijual sehat. Kondisi hewan dagangannya jauh lebih stabil ketimbang sebelumnya. Sebab, sudah mempersiapkan sejak tiga pekan lalu. ‘’Insya Allah sehat, karena saya berjualan kambing sudah lima tahun, tidak hanya di momen Idul Adha,’’ katanya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close