Dihujani Bonus, Aji Bangkit Pamungkas Ingin Hajikan Orang Tua

132

Saat ini, boleh jadi kepopuleran Aji Bangkit Pamungkas mengalahkan Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni. Semua orang menyanjung. Bahkan Ipong sekalipun. Wajar, lantaran sang putra daerah Bumi Reyog usai mengharumkan merah putih di pesta olahraga terbesar se-Asia. Sang peraih medali emas pencak silat Asian Games 2018 itu kemarin pulang kampung ke Ponorogo.

—————-

SENYUM sang pendekar tampak cerah siang itu. Sesekali Aji Bangkit Pamungkas membungkuk memberi hormat, membalas lambaian tangan warga Bumi Reyog di sepanjang arak-arakan kemarin. Begitulah sikap pendekar. Bangkit masih tetap ramah, juga sederhana. Sekarung bonus yang dia bawa pulang dari Jakarta tidak akan dihabiskan dengan foya-foya. Pesilat asal Kertosari, Babadan, itu justru terpikir menyisihkannya untuk yatim piatu. ‘’Juga untuk orang tua, memperbaiki rumah dan memberangkatkan haji,’’ kata Bangkit kemarin.

Bangkit meraih medali emas di pencak silat kelas I putra (85-90 kg). Di final, Bangkit mengalahkan atlet Singapura Sheik Ferdous Sheik Alauddin dengan skor telak 5-0. Torehan itu di luar ekspektasi. Bangkit sebelumnya ditargetkan hanya sampai final. ‘’Ternyata bisa melebihi target, ini sekaligus menjadi motivasi untuk pribadi, bagaimana ke depan dapat berprestasi lebih baik lagi,’’ ujar pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tersebut.

Lulusan SMKN 1 Jenangan itu pun dihujani bonus. Sulung empat bersaudara pasangan Agus Widodo-Anis Nurul Laili itu memperoleh bonus Rp 1,5 miliar dari pemerintah atas raihan medali emasnya. Bonus tak henti menghujani Bangkit. Setibanya di Bumi Reyog, Bangkit menerima bonus Rp 100 juta dari pemkab dan Rp 10 juta berupa tabungan dari Bank Jatim cabang Ponorogo.

Bangkit juga mendapat tawaran menjadi aparatur sipil negara (ASN), anggota Polri, atau TNI. Namun demikian, dia belum menentukan pilihan atas tawaran itu. Dia memilih berkonsentrasi mempersiapkan kejuaraan dunia pencak silat di Singapura akhir tahun ini. ’’Alhamdulillah, menurut saya bagus (berbagai bentuk apresiasi, Red). Apresiasi ini penting agar memacu para atlet dalam mengembangkan bakatnya di kancah lebih tinggi,’’ terang Bangkit.

Bangkit kemungkinan tidak akan berlama-lama berkumpul bersama keluarga. Pasalnya, dua bulan ke depan, peraih medali emas ke-16 untuk Indonesia di Asian Games 2018 itu harus kembali menjalani pelatihan nasional (pelatnas). Meski berat, dia optimistis bakal mengharumkan kembali nama Indonesia melalui cabang olahraga yang digeluti sejak duduk di bangku SMP tersebut. Target berikutnya, Sea Games 2019 dan Olimpiade Tokyo 2020 (jika usulan pencak silat dipertandingkan dapat disetujui).

Optimisme itu lahir bukan tanpa alasan. Di laga semifinal Asian Games 2018 kemarin, Bangkit mampu mengalahkan Duy Tuyen Nguyen, jawara pencak silat asal Vietnam yang notabene dianggap sebagai lawan terberatnya. Nguyen merupakan Juara Dunia 2016. ‘’Pernah bertemu di beberapa pertandingan, dan saya kalah. Tapi dengan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia, alhamdulillah bisa menang,’’ ucap pria kelahiran 20 Mei 1999 tersebut.

Menanggapi pertanyaan awak media tentang rencananya untuk menikah, atlet dengan tinggi 180 sentimeter itu menjawab cukup dengan senyum. Umur belianya bakal dimaksimalkan untuk menorehkan prestasi gemilang. ‘’Belum kepikiran soal itu (menikah, Red), lebih fokus ke latihan dan latihan,’’ tuturnya. (mg7/naz/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here