Digandeng Caleg Jadi Penerjemah dalam Video Kampanye

140

MADIUN – Berdiri di panggung, Rahmatul Maghfiroh menggerakkan jari jemarinya dengan lincah sembari memegang secarik kertas undian. Gerakannya mengikuti nomor yang disebut master of ceremony (MC). Bersamaan itu, pandangan mata puluhan tunarungu tertuju padanya.

Momen tersebut terekam saat Ama –sapaannya– mengikuti kegiatan Hari Difabel Internasional (HDI) awal Desember lalu. “Waktu itu dimintai tolong teman-teman Komtuma (Komunitas Tuli Madiun, Red) membantu menerjemahkan pengumuman dari pembawa acara,” kata Ama.

Sudah hampir satu setengah tahun Ama mengabdikan diri sebagai penerjemah bagi kalangan tunarungu, khususnya anggota Komtuma. ‘’Saya penerjemah pertama di sana. Kebetulan Komtuma juga baru terbentuk,’’ jelas perempuann asal Tegal, Jawa Tengah, ini.

Ama tertarik belajar bahasa isyarat setelah kerap melihat penerjemah yang muncul di layar kaca sejumlah stasiun televisi nasional saat program berita. Dia akhirnya belajar otodidak melalui tutorial yang bertebaran di YouTube. ‘’Awalnya belajar abjad dan percakapan sederhana,’’ ujarnya.

Merasa kurang puas, gadis 21 tahun itu lantas belajar langsung dengan penyandang tunarungu. Singkat cerita, Ama bertemu dengan ketua Komtuma. ‘’Ketua komunitasnya juga masih kuliah dan seumuran, jadi nyaman-nyaman saja,’’ ucap mahasiswi jurusan matematika Universitas PGRI Madiun (Unipma) ini.

Selama berbulan-bulan Ama intens belajar bahasa isyarat dengan ketua Komtuma. Awalnya sulit baginya menangkap pembicaraan tunarungu. Namun, berkat ketekunannya, gadis yang indekos di Kelurahan Kanigoro, Kartoharjo, Kota Madiun, itu akhirnya mampu menguasai bahasa isyarat.

Ama kali pertama ’’go public’’ saat debat pemilihan wali kota (pilwakot) lalu. Kala itu, sebuah stasiun televisi lokal meminta jasanya sebagai penerjemah. ‘’Awalnya ragu, tapi setelah konsultasi dengan teman-teman di Komtuma dan mereka mendukung, saya terima tawaran itu,’’ bebernya.

Tiga hari sebelum debat digelar, Ama sibuk menuliskan kosakata seputar politik. Dibantu teman-teman dari Komtuma, dia menghafal dan mempraktikkan setiap kata tersebut dalam bahasa isyarat. ‘’Kalau ada yang salah, mereka membetulkan. Belajarnya dari pagi sampai malam,’’ ungkapnya.

Perasaan plong membuncah saat dirinya mampu menerjemahkan dengan lancar ketika debat berlangsung. Pun, pihak televisi lokal kembali menggandengnya saat acara debat pemilihan bupati Madiun dan Magetan. ‘’Belum lama ini ada juga caleg yang minta terjemahan kampanye dalam video singkatnya,’’ imbuh Ama.

Meski sudah memiliki jam terbilang lumayan, sampai saat ini Ama masih terus mengasah kemampuan bahasa isyaratnya. Hampir setiap hari dia latihan. ‘’Pernah satu bulan nggak pakai bahasa isyarat, waktu ketemu teman-teman Komtuma rasanya kikuk dan ada kosakata yang lupa,’’ kenangnya.

Baginya, menjadi penerjemah bagi tunarungu menghasilkan kebahagiaan tersendiri. Sebab, dia merasa lingkungan sosial belum ramah dengan kaum berkebutuhan khusus. ‘’Di luar negeri, bahasa isyarat sudah menjadi kebutuhan. Bahkan, ada dalam satu rumah tangga yang tidak memiliki anggota keluarga tuli tapi tetap mempelajari bahasa isyarat,’’ ujarnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here