Ponorogo

Diffa Haidar Kova Bangga Jadi Calon Pengacara

Siap Merangkak kalau Pindah Kelas Tak Ada Eskalatornya

Diffa Haidar Kova berkesempatan menempuh studi di Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) Malang. Mimpi remaja 19 tahun itu menjadi seorang pengacara kian terbuka lebar.

============================

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

MEMAKAI kemeja kotak-kotak dipadu celana jins, Diffa menenteng tas di punggung. Cara berjalannya tertatih, sedikit kesulitan lantaran kaki kanannya terseok. ‘’Diffa cerebral palsy. Kedua kakinya kaku. Bisa jalan tapi jinjing,’’ kata Rusdianti, ibunya.

Beberapa bulan lalu datang berita gembira. Diffa, putra sulung Rusdianti, ini telah diterima di FH UB jalur disabilitas. Menyisihkan 125 mahasiswa disabilitas yang mendaftar di kampus tersebut. ‘’Kuliah jurusan hukum itu cita-citanya sejak dulu,’’ tutur Rusdianti bangga.

Impian menjadi pengacara telah mengakar di benak Diffa sejak SMP. Ayahnya seorang pengacara yang cukup populer di Ponorogo. Dia pun terinspirasi mengikuti jejak karir ayahnya. ‘’Dulu kalau SMP  gitu, setiap ditanya cita-citanya apa, jawabnya pengacara,’’ ujarnya.

Hal itu pula yang membuat Diffa lolos seleksi. Ketika sesi wawancara, beragam pertanyaan yang diajukan dijawabnya dengan penuh percaya diri. Alasannya, ingin menjadi pengacara seperti ayahnya. Pun, ketika diberikan pertanyaan yang menguji kemandirian dan tekadnya dalam menuntut ilmu. ‘’Diffa sempat ditanya, kalau tiba-tiba dipindah kelas yang di situ tidak ada eskalatornya bagaimana? Diffa menjawab, akan merangkak,’’ katanya.

Momen itulah yang seketika membuat hati Rusdianti bangga sekaligus trenyuh. Beruntung, ada seorang volunter yang disediakan pihak kampus. Rasa percaya diri itu  tumbuh atas didikan Rusdianti dan suaminya. ‘’Ayahnya tidak memperkenankan  Diffa bergantung pada kursi roda. Agar lebih mandiri,’’ ujarnya.

Pun, sedari TK sampai SMA Rusdianti menempatkan Diffa di sekolah inklusi. Beruntung, sepanjang menuntut ilmu banyak yang peduli dengan keberadaannya. ‘’Nggak ada yang mencemooh. Hanya, ketika SD dulu pernah dibuat nangis karena ulah temannya,’’ tuturnya.

Sejak balita Diffa terdiagnosis cerebral palsy. Rusdianti melihat tanda-tanda itu ketika menginjak usia tiga bulan. Saudaranya yang dokter melihat keanehan pada telapak kakinya. Lantaran tidak bereaksi ketika digelitik. Ketika itu, Rusdianti sempat memeriksakan putranya ke Solo, Jateng. Pun, setelah itu beragam proses penyembuhan pernah dilakukan. Singkat cerita, Rusdianti menerima informasi jika Diffa bisa dioperasi penyambungan urat. ‘’Dioperasi empat titik. Dua tungkai dan kedua selangkangan. Setelah itu bisa berdiri dan jalan,’’ pungkasnya. (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close