Kisah Didik Subagio, Kades Termuda di Ponorogo

275
SARJANA EKONOMI: Didik Subagio bersama istri usai pelantikan di Pendapa Agung Pemkab Ponorogo, Jumat (14/6).

PONOROGO – Di usianya yang baru mancik kepala tiga, Didik Subagio mantab mengemban amanat memimpin desa. Di antara 117 kades yang dilantik Jumat (14/6) lalu, kades Purworejo iu tercatat sebagai yang termuda.

———-

MIZAN AHSANI, Balong

HARI masih pagi, Didik Subagio harus bersiap. Setelan seragam putih-putih sudah rapi dipersiapkan istri. Lengkap beserta sepatu pantofel dan topi yang juga berwarna putih. Jumat itu (14/6), Didik hendak berangkat ke Pendapa Agung Kabupaten Ponorogo bersama istri dan anaknya yang masih berusia dua tahun. Didik dan keluarga kecilnya hendak mengikuti prosesi sakral yang belum pernah dibayangkan sebelumnya; dilantik sebagai Kades Purworejo. ‘’Saya terkejut waktu tiba-tiba diusulkan maju pilkades. Sampai sekarang pun banyak teman yang sulit percaya,’’ kata Didik, heran.

Jumat itu, ada 117 kades yang dilantik Bupati Ipong Muchlissoni. Didik salah satunya. Usianya saat ini masih 30 tahun. Membuat warga Purworejo, Balong, itu menyandang predikat termuda. ‘’Tidak pernah berencana menjadi kades. Justru, sempat ada rencana berkarir sebagai polisi,’’ kata dia.

Meski masih muda, Didik melalui cukup banyak liku. Lulus SMA 12 tahun silam, Didik berencana hendak menjadi polisi, dengan mendaftar di sekolah polisi negara (SPN). Rencana itu gagal. Lulusan SMAN 3 Ponorogo itu lantas melanjutkan pendidikannya ke Universitas Merdeka (Unmer) Ponorogo. 2012, dia resmi menyandang gelar sarjana ekonomi. ‘’Setelah lulus, sempat melamar ke berbagai perusahaan, tapi belum berhasil,’’ kenangnya.

Didik lantas teringat cita-cita yang lama dipendamnya. Kembali terbersit keinginan berkarir sebagai polisi. Kali ini, melalui jalur sekolah inspektur polisi sumber sarjana (SIPSS). Pergilah dia ke ibukota. Belum sempat mendaftar, Didik mendengar kabar yang menggetarkan hatinya. Sang bapak tutup usia. ‘’Saya langsung pulang ke Ponorogo, batal mendaftar polisi,’’ kata dia.

Sepulang di Ponorogo, Didik melihat banyak pekerjaan yang nasibnya terancam usai kepergian sang bapak. Sawah, ternak, semua merupakan pemasukan utama keluarga. Sarjana ekonomi ini lantas melanjutkan usaha rintisan orang tuanya. ‘’Niat awalnya pulang untuk menemani ibu. Tapi setelah bapak wafat, banyak pekerjaan yang harus dilanjutkan. Sementara kakak hidup sudah mandiri,’’ kenang si bungsu dua bersaudara itu.

Seiring berjalannya waktu, Didik mulai kerap terlibat diskusi dengan warga desanya. Dengan sesama petani, peternak, dan tetangga-tetangga lainnya. Suatu ketika, ide memunculkannya sebagai kandidat kepala desa mengemuka di tengah obrolan. Di Purworejo, kades incumbent yang sudah memimpin dua periode juga kembali mencalonkan diri. ‘’Awalnya jelas terkejut. Tapi saya terus diyakinkan tetangga-tetangga,’’ sebutnya.

Awalnya, Didik pesimistis. Lawannya adalah petahana yang sudah 12 tahun menjabat kades. Namun, 872 warga desa lebih memilihnya, mengungguli 426 suara perolehan lawannya. ‘’Saya ini berangkat dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tentu tidak menyangka,’’ ujarnya berjanji mengemban amanah yang telah dipercayakan warganya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here