Didera Kemiskinan, Sadikem Andalkan Uluran Tetangga

288

Sadikem tidak seberuntung warga lainnya. Sudah bertahun-tahun perempuan itu tinggal sebatang kara di rumah yang jauh dari kata layak. Untuk menyambung hidup, dia hanya mengandalkan uluran tangan tetangga.

——–

DI penggal jalan yang masih makadam, Sadikem tengah berjalan. Dua kakinya sudah tak lagi kuat menopang badan. Sebatang dahan kayu bertekstur alami digenggam erat-erat untuk membantu menapakkan kaki. Badannya bungkuk, melangkah hati-hati. Rambutnya putih dan diikat tidak seberapa rapi. Ikatan rambut itu tampak seperti bergoyang setiap kali dia menjejakkan kaki dengan tongkatnya. ‘’Mbah Kem… Mbah Kem…’’ teriak salah seorang tetangga memanggil perempuan tersebut.

Setelah terdengar beberapa kali teriakan keras, barulah perempuan renta itu berhenti. Sesaat setelah menoleh, tongkat di genggamannya beralih ke tangan kiri. Dia menerima sebatang jagung. Sejurus kemudian, langkahnya mandek di muka pintu yang tertutup.

Dia menyandarkan tongkatnya di dinding gedhek. Kaitan tali pengunci pintu lantas dibuka. Dengan kondisi badannya yang bungkuk, tinggi pintu tak sampai dua meter itu tetap saja kelihatan menjulang saat dilewatinya. ‘’Diberi jagung tadi, untuk pakan ayam,’’ katanya, lantas melemparkan biji-biji jagung ke sekitar kurungan ayam.

Siang itu, Katiyem tampak semringah melihat ayam-ayamnya lahap memakan jagung. Senyumnya yang sesekali terlihat memperjelas lekuk dan kerut di wajahnya. ‘’Tinggalnya di sini,’’ kata warga RT/RW 02/07 Dusun Bugel, Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, itu.

Sadikem seorang diri menempati bangunan yang belum bisa disebut rumah, tapi juga tidak pas kalau dibilang gubuk itu. Keempat sisi tempat tinggalnya cukup dibatasi anyaman bambu alias gedhek. Tak ada teras. Sandal jepit beda warna biru dan kuning– di kaki Katiyem pun biasa beradu dengan lantai tanah.

Sebuah tungku tanah dengan kuali di atasnya berada di salah satu sudut bangunan 5×6 meter tersebut. Tungku itu hanya mengepul asapnya saat Sadikem memiliki beras. Di samping tungku, berdiri meja bambu doyong dengan sedikit perkakas dapur. ‘’Suami sudah lama meninggal. Kami tidak punya anak,’’ ujarnya.

Selain tungku, meja reyot, dua kurungan ayam, di dalam rumah Katiyem terdapat dua ikat daun kacang tanah. Dia berencana memberikan itu kepada seorang tetangga yang memelihara kambing. Dengan begitu, Katiyem bisa makan siang.

Terkadang, sekantong beras dapat ditentangnya setelah memberikan pakan ternak tersebut. ‘’Dulu pernah punya kambing sendiri. Beberapa saya jual untuk memperbaiki rumah. Lalu habis karena sudah tidak kuat ngopeni,’’ tuturnya.

Dua tiang kayu sebetis orang dewasa di dalam rumah Sadikem seolah membagi tempat tinggalnya menjadi tiga tanpa sekat. Kandang ayam berada di antara tempatnya tidur dan menanak nasi. ‘’Kadang ayam marah pas tidak sengaja kena kaki saya saat tidur,’’ ujarnya.

Bertahun-tahun rumah Sadikem temaram saat malam. Beruntung, belakangan ada tetangga yang sudi memasang lampu. Kendati demikian, sebuah ublik masih saja tertempel di salah satu tiang yang dekat dengan tempat tidurnya.

Selama ini Sadikem menyambung hidup dari uluran tangan beberapa tetangganya. Kendati begitu, tidak saban hari untuk sekadar makan siang saja bisa diperolehnya. Dua ekor ayam kampung betina dan seekor jago menjadi jalan rezeki bagi Sadikem. ‘’Dua butir telur Rp 5 ribu,’’ sebutnya.

Beberapa tahun lalu Sadikem sempat mendapat bantuan berupa kebutuhan pokok dari pihak desa. Namun, sejak itu belum ada lagi bantuan serupa. Meski begitu dia tetap bersyukur. ‘’Yang penting masih diberi sehat,’’ ujarnya tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong. ***(deni kurniawan/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here