Dibilang Mirip Jokowi, Mengajar Reyog Cuma-Cuma

26

MAGETAN – Perawakannya tinggi dan kurus. Gaya bicaranya kalem, dengan gestur tangan kiri diangkat ke atas sambil memberikan aba-aba para muridnya yang sedang berlatih gamelan.

Tidak heran, tiap mengajar kesenian musik Jawa itu, pria yang dikenal dengan nama Budiono ini kerapkali disebut sebagai fotocopy-nya Jokowi, Presiden RI saat ini. Apalagi, sepintas lalu wajahnya memang ada kemiripan-kemiripan. ‘’Murid-murid yang menyama-nyamakan saya dengan Pak Presiden. Sebenarnya tidak juga,’’ kata Budiono kepada Jawa Pos Radar Magetan kemarin (9/4).

Oleh tetangga dan keluarga, Budiono dulunya dikenal sebagai ahli elektronik. Bahkan, dia sempat menjalankan usaha reparasi barang elektronik beberapa tahun sebelum kemudian gulung tikar.

Namun, bidang yang ditekuni pria berusia 52 tahun itu sekarang tak memiliki hubungan dengan masalah barang elektronik. Sebab, Budiono dipercaya menjadi pelatih karawitan dan mengajar kesenian reyog di Magetan. ‘’Setelah sempat menjadi tukang reparasi elektronik, saya banting setir membuka sanggar Singo Among Putro pada 2012,’’ ungkap warga Jalan Kelud, Kelurahan/Kecamatan Magetan.

Budiono mengaku menjadi tenaga pengajar karawitan dan kesenian reyog sejak tujuh tahun silam. Keterampilan bermain alat musik gamelan dan kesenian daerah asli Ponorogo itu diperoleh Budiono dari lingkup keluarganya yang memang suka seni tradisional. Semenjak itu kemampuan Budiono sedikit banyak dikenal orang. ‘’Saat ini jumlah murid saya ada 30 orang,’’ ujarnya.

Oleh Budiono, murid-muridnya itu dilatih dengan tekun. Bahkan, sempat mereka dibawanya pentas ke berbagai event kesenian dan budaya di luar daerah. Tujuannya untuk mengasah mental mereka dan adu untung mendapat reward. ‘’Kendati begitu, saya tidak pernah meminta imbalan kepada para siswa dalam mengajar kesenian karawitan dan reyog itu,’’ kata suami dari Ninik Sujiati itu.

Dia hanya ingin melihat dua kesenian tersebut makin berkembang. Tidak hilang ditelan zaman. Karena itu, ketika melihat antusias anak-anak yang dilatihnya, Budiono mengaku senang dan bangga. Sebab, dia berkeyakinan dua kesenian yang sudah mendunia tersebut ada regenerasinya. ‘’Apalagi saat ini pengaruh dari dunia teknologi. Saya khawatir kesenian ini akan ditinggalkan oleh generasi muda. Makanya saya berikan mereka pelatihan secara cuma-suma agar tetap lestari ke depannya,’’ bebernya.

Berkat keterampilan dan ketekunannya itu mampu mengantarkan sanggarnya dikenal. Berbagai undangan tampil mengalir deras. Salah satunya saat kampanye terbuka Partai Nasdem dan Sandiaga Uno beberapa hari lalu. ***(her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here